JUNREJO - Daftar destinasi edukasi sejarah di Kota Batu bertambah. Pusat Pendidikan (Pusdik) Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) TNI AD meresmikan Museum Sejarah Arhanud kemarin (4/12). Museum yang mengoleksi artefak dan dokumentasi sejarah artileri pertahanan udara ini disebut menjadi satu-satunya museum sejarah di Kota Batu.
Museum menyajikan paparan kronologis peran Arhanud sejak masa penjajahan hingga periode pascakemerdekaan. Koleksi yang dipamerkan meliputi dokumentasi peristiwa penting seperti Pertempuran Surabaya (1945-1946) dan Mojokerto (1946-1947), operasi di Pantai Banyuwangi (1947), serta penumpasan G30 September dan insiden Madiun-Blitar.
Semua materi disusun berdasarkan buku sejarah Arhanud yang kemudian divisualisasikan agar lebih interaktif. Komandan Pusdik Arhanud, I Made Suryawan mengatakan museum dirancang sebagai medium edukasi untuk memperkenalkan peran institusi dalam pertahanan negara. “Kami ingin sejarah Arhanud tidak hanya tertulis, tetapi juga bisa dinikmati dan dipahami publik melalui visualisasi,” ujarnya.
Selain dokumen dan foto, museum menampilkan sejumlah alutsista. Mulai dari target drone latihan, meriam 23 mm dari Belgia, hingga Meriam SMB 12,7 dari Eropa. Pusdik berencana menambah koleksi alutsista yang saat ini masih tersimpan di lokasi lain supaya dapat dipusatkan di museum.
Museum ini dibuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Pengunjung baik wisatawan maupun pelajar cukup melapor ke petugas jaga dan akan didampingi pemandu selama kunjungan. Menurut Suryawan, ketertarikan pelajar sudah terlihat sebelum peresmian. Banyak rombongan siswa yang datang untuk belajar secara langsung di lokasi.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Onny Ardianto menyambut baik inisiatif itu. Ia menilai museum memperkaya ragam objek wisata kota yang selama ini didominasi tema budaya dan alam. “Penyajian sejarah secara visual berpotensi menarik segmen wisatawan berbeda. Khususnya rombongan pelajar dan penikmat sejarah,” kata Onny.
Dia berkomitmen membantu promosi agar museum menjadi alternatif kunjungan yang memperkaya destinasi Kota Batu. Secara kritis, keberhasilan museum sebagai ikon wisata bergantung pada dua aspek. Yakni kontinuitas penambahan koleksi dan strategi edukasi-publik yang menjangkau audiens lebih luas. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho