BATU - Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kota Batu yang sempat melonjak lagi pada awal tahun ini masih menyisakan trauma bagi para peternak. Itulah mengapa populasi ternak mereka tidak sebanyak dulu (sebelum PMK). Khususnya bagi peternak hewan besar seperti sapi perah dan sapi potong.
Alasannya karena potensi risiko kerugian jauh lebih besar jika dibandingkan dengan hewan ternak kecil. Misalnya, kambing dan domba. Maka wajar bila tren populasi sapi perah dan sapi potong relatif menurun. Sedangkan, populasi kambing dan domba relatif stabil. Kendati jumlahnya pun fluktuatif dari triwulan satu ke triwulan lain.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP), populasi sapi perah pada triwulan dua tahun ini tersisa 8.540 ekor saja. Padahal pada triwulan pertama tahun lalu, populasinya mencapai 9.726 ekor. Sementara, populasi sapi potong pada triwulan kedua tahun ini tersisa 2.433 ekor tahun ini.
Sedangkan, pada triwulan pertama tahun lalu populasinya mencapai 3.303 ekor (selengkapnya baca grafis). Kepala Bidang Peternakan dan Perikanan Distan-KP Sri Nurcahyani Rahayu menyampaikan awal tahun ini memang ada 72 hewan ternak yang terjangkit PMK. Bahkan beberapa di antaranya sampai mati.
Itulah mengapa vaksinasi PMK terus digeber. Perempuan yang akrab disapa Ani itu mengatakan tahun ini Kota Batu mendapat jatah 10 ribu dosis vaksin PMK dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur. Namun, penyalurannya tidak dilakukan sekaligus melainkan secara bertahap.
Dia mengatakan akan memaksimalkan bantuan vaksin dari Pemprov Jatim. Kendati, sebenarnya Pemerintah Kota (Pemkot) Batu memiliki anggaran sendiri untuk penanganan PMK. Sebab, Ani menilai bantuan vaksin tersebut sudah bisa meng-cover kebutuhan vaksin hewan ternak di Kota Batu.
“Anggaran dari Pemkot Batu kami siapkan untuk kondisi-kondisi yang mendesak dan urgen,” ujarnya. Penanganan PMK dianggarkan melalui anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Lebih lanjut, pihaknya menyampaikan bila serapan vaksin sejauh ini masih minim.
“Sejauh ini baru 600 dosis saja yang tersalurkan ke peternak. Kami akan salurkan lagi bulan ini,” ungkap alumnus Universitas Brawijaya (UB) itu. Vaksinasi dilakukan lima dokter hewan dari Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Kota Batu dengan sistem jemput bola. Baik berdasarkan permintaan atau laporan penyuluh peternakan atau peternak langsung.
Penyusutan populasi hewan ternak tidak hanya karena mati akibat PMK. Namun, juga dijual sang pemilik untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Terutama itu dilakukan pada bulan-bulan awal tahun ini saat kasus PMK kembali naik. Sayangnya setelah wabah PMK mereda, kondisi ekonomi nasional sedang lemah.
Itu membuat peternak berpikir dua kali ketika akan membeli hewan ternak lagi. Sebagian dari peternak mengaku menggunakan uangnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Itulah mengapa populasi hewan ternak tak kunjung kembali normal meski Kota Batu sudah dinyatakan nol kasus PMK.
Terpisah, Ketua Kelompok Sumber Tani Makmur asal Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, Lastari mengatakan penyusutan populasi hewan ternak memang nyaris dialami anggotanya termasuk dirinya. Dia mengaku masih memelihara 40 domba pada akhir tahun lalu. Namun, kini jumlahnya hanya tersisa 16 ekor saja.
“Ketika PMK ada empat ekor lebih yang mati. Beberapa lainnya saya jual,” terangnya. Saat ini Lastari masih ingin fokus memelihara sisa domba yang ada. Alias belum ada rencana untuk menambah populasi ternaknya lagi. Sebab, ia menilai perlu banyak adaptasi yang dilakukan terkait perawatan hewan ternak pasca-PMK.
“Sekarang kami lakukan perawatan baik pembersihan kandang, pemberian makan, maupun kontrol hewan secara bersama-sama dengan anggota kelompok pertersnak lainnya,” imbuh Lastari. Dia menambahkan sejauh ini penambahan populasi hanya mengandalkan kelahiran saja. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho