Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Harga Daging Ayam Melonjak di Kota Batu

A. Nugroho • Sabtu, 20 September 2025 | 17:38 WIB
HARGA MEROKET: Salah seorang pedagang di Pasar Induk Among Tani Batu menjual daging ayam ras beberapa hari lalu.
HARGA MEROKET: Salah seorang pedagang di Pasar Induk Among Tani Batu menjual daging ayam ras beberapa hari lalu.

BATU - Penipisan stok membuat harga daging ayam di Kota Batu melonjak signifikan bulan ini. Dari harga normal antara Rp 30-32 ribu per kilogram naik menjadi Rp 38 ribu per kilogram. Artinya, kenaikan harga daging ayam ras mencapai Rp 7-8 ribu per kilogram.

Kondisi serupa juga terjadi di beberapa daerah lain. Seperti di Kabupaten Majalengka dan DKI Jakarta. Harga daging ayam di sana bahkan tembus Rp 47 ribu per kilogram. Salah seorang pedagang daging ayam di Pasar Induk Among Tani Batu Didik Suryadi menyebut kenaikan harga daging ayam sudah terjadi sejak sepekan terakhir.

Semula ia menjual daging ayam Rp 32 ribu per kilogram. Namun, kini harganya melambung hingga Rp 38 ribu per kilogram. Didik mengaku tidak mengetahui pasti penyebab kenaikan harga daging ayam ras. Namun, dirinya menduga kenaikan harga disebabkan lonjakan permintaan menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW beberapa waktu lalu.

“Sehingga, itu menyebabkan stok di peternak menipis. Tapi saya tidak tahu pasti karena dapatnya sudah mahal,” paparnya. Lonjakan harga daging ayam membuat Didik mengalami penurunan penjualan. Dari yang biasanya laku 50 ekor per hari kini susut menjadi 20-30 ekor saja. Dia menyebut tren itu nyaris dialami semua pedagang.

Terpisah, salah seorang peternak ayam di Kecamatan Batu Otto Sugiarto mengatakan kenaikan harga daging ayam memang disebabkan lantaran stok ayam di peternak mulai menipis. Itulah mengapa harga jualnya naik sejak di tingkat peternak.

“Pekan lalu memang naik Rp 23,5 ribu. Tapi sekarang sudah agak turun menjadi Rp 23 ribu per kilogram sejak hari Kamis lalu,” bebernya. Otto mengungkapkan awalnya stok daging ayam melimpah hingga overstock pada April-Agustus lalu. Itu lantaran jadwal panen daging ayam mengalami kemunduran.

“Idealnya panen ayam dilakukan setiap 35 hari sekali. Namun saat itu bisa mundur sampai menjadi 70 hari atau dua kali lipatnya,” jelasnya. Lebih lanjut, imbasnya juga terhadap bobot ayam yang overload hingga lima kilogram per ekor. Padahal idealnya berat satu ekor ayam pedaging hanya dua kilogram saja.
Beruntung, pemerintah pusat mulai menetapkan standar harga jual daging ayam di angka Rp 18 ribu per kilogram pada bulan Juli. Hal itulah yang mampu menyelamatkan harga daging dari perternak agar tak mengalami anjlok.

Namun saat ini, kebutuhan sarana produksi peternakan (sapronak) yang turut naik. Sehingga, Break Even Point (BEP) naik cukup signifikan. Seperti pakan, vaksin, hingga anakan atau bibit ayam. Itulah mengapa banyak peternak mengurangi jumlah produksinya yang mengakibatkan stoknya menjadi terbatas kemudian harga melonjak.

Kendati begitu, Otto memprediksi kenaikan harga daging ayam tidak akan berlangsung lama. Sebab, beberapa waktu ke depan produksi dan kebutuhan mulai stagnan. “Kemungkinan bulan depan sudah mulai normal lagi,” tegas pria asal Desa Oro-Oro Ombo itu.

Menurut Badan Pangan Nasional (Bapanas), kenaikan harga daging ayam masih tergolong wajar. Sebab, masih berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP). Itu diatur dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 6 Tahun 2024 tentang Harga HAP di Tingkat Produsen dan Konsumen. Harga daging ayam ditetapkan sebesar Rp 40 ribu per kilogram. (ori/dre)

Editor : A. Nugroho
#melonjak #daging ayam #harga #batu