BATU - Tradisi mberot atau kalap bakal dihapus dari pertunjukkan seni bantengan. Pasalnya, dua kebiasaan itu dinilai berkonotasi negatif. Tradisi mberot atau mengamuk alih-alih akibat kerasukan roh halus kini banyak disalahartikan menjadi sesuatu yang tidak baik.
Untuk itu, Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu akan melakukan upaya pendampingan instensif. Baik dari sisi manajemen sanggar maupun pelatihan seni pertunjukkannya. Sehingga, seni bantengan akan memiliki visi melalui narasi yang dipertunjukan.
Kepala Bidang Kebudayaan Disparta Kota Batu Sintiche Agustina Pamungkas mengatakan menggandeng akademisi dan pelaku seni untuk merumuskan kembali pakem seni bantengan tersebut.
Perempuan kelahiran Kota Kediri itu juga akan melakukan sosialisasi agar kelompok seni bantengan bisa menampilkan kesenian yang punya nilai luhur. "Jadi ada narasi cerita dan bisa dengan menonjolkan pencak silatnya," terang Iche.
Dia mengaku sudah mengadakan musyawarah sekaligus pembinaan kepada kelompok Bantengan Nuswantoro. Kelompok tersebut dipilih karena tergolong grup seni yang cukup besar. Kelompok tersebut memiliki 1.000 bantengan.
Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Onny Ardianto mengaku rutin menggelar pembinaan. Tujuannya untuk menguatkan lokalitas dalam kesenian bantengan di Kota Batu. “Kami mencatat ada 94 kelompok seni bantengan di Kota Batu,” tutup Onny. (nj5/dre)
Editor : A. Nugroho