Dewan Anggap Efektif Mengurai Kemacetan
BATU - Sterilisasi kawasan Alun-Alun Kota Wisata Batu dari tumpukan kendaraan terus dibahas.
Belakangan DPRD Kota Batu saran agar Pemerintah Kota (Pemkot) Batu menyewa lahan untuk kantong parkir di sana.
Bahkan, sudah ada lahan yang direkomendasikan.
Yakni ber lokasi di Jalan Sudiro dengan luas lahan 2 hektare.
Lahan kosong itu dinilai potensial lantaran tak di fungsikan pemiliknya.
Ketua DPRD Kota Batu Didik Subiyanto mengatakan lahan tersebut cocok dimanfaatkan untuk kantor parkir.
Mengingat jaraknya juga tidak terlalu jauh dengan alun-alun.
“Kalau membeli lahan itu mungkin cukup berat. Solusinya bisa dengan menyewa,” ujarnya.
Didik mengaku mendapat kabar pemilik lahan itu saat ini berada di Surabaya.
Dia meminta agar Dinas Perhubungan (Dishub) segera menjalin komunikasi terkait hal itu.
Sehingga, parkir di kawasan alun-alun bisa segera tertata dengan baik.
Tidak hanya itu, kebocoran retribusi parkir juga menjadi masalah krusial yang harus segera dituntaskan.
Selain itu, terkait rencana pemindahan pos polisi di Alun-Alun Kota Wisata Batu, dia meminta agar lahan tak beralih menjadi titik parkir.
Untuk itu, pengadaan kantong parkir harus segera direalisasikan.
“Yang jelas kami masih mencari solusi terbaik untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Batu dari retribusi parkir tepi jalan,” ujarnya.
Menanggapi hal itu, Kepala Dishub Kota Batu Hendry Suseno mengatakan akan segera melakukan survei lebih dahulu.
Namun, dia menyebut pengadaan kantong parkir di alun-alun masuk rencana jangka menengah.
“Yang paling dekat kami akan lakukan pemasangan gate parkir dulu,” ungkapnya.
Dia menambahkan beberapa waktu lalu dilakukan pembahasan terkait penataan alun-alun.
Salah satunya rencana pembangunan parkir bertingkat di GOR Ganesha.
Pengelolaannya dilakukan Dishub langsung.
Kemudian dilanjutkan pembangunan parkir bertingkat di gedung Kelurahan Sisir.
”Sehingga Jalan Gajah Mada bebas dari kendaraan parkir,” tutupnya.
Area dan Akses PKL Juga Butuh Ditata Ulang
Penataan parkir alun-alun perlu segera direalisasikan.
Sebab, Pemkot Batu tak hanya mengurusi itu.
Penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) bakal menjadi PR selanjutnya.
Terutama PKL yang berada di Pasar Panggung Alun-Alun Kota Wisata Batu.
Sebab, mereka mengeluhkan penurunan omzet yang signifikan.
Salah seorang PKL di sana, Nur Aeni, 60, mengaku kunjungan ke pasar panggung kini sangat sepi.
Bahkan, mayoritas pedagang di sana memilih hanya berjualan pada akhir pekan saja.
Sebab saat weekday, setiap pedagang hanya melayani 4-5 pembeli saja.
“Hanya 3 dari 17 pedagang yang aktif berjualan saat weekday,” ungkapnya.
Sepinya kunjungan dinilai akibat penataan dan akses yang buruk.
Pasar panggung terletak di area belakang food court alun alun.
Pengunjung harus melewati pasar laron kemudian naik tanggal lebih dulu untuk sampai di sana.
“Omzet kami di weekend pun sudah turun separo jika dibandingkan sebelum-sebelumnya,” ungkap Nur.
Dulu dia bisa meraup pendapatan hingga Rp 2 juta.
Namun, kini mendapat satu juta saja sulit.
Padahal omzet Rp 1 juta, dulu merupakan penghasilan paling jelek.
Nur berharap PKL pasar panggung bisa kembali ke Jalan Sudiro sebelum direlokasi dulu.
Mengingat tempat itu kini juga tak difungsikan.
“Saat masih di sana dulu ramai,” tutupnya. (iza/dre)
Editor : Aditya Novrian