BATU - Wisata buatan masih menjadi daya tarik utama Kota Batu.
Kendati, beberapa wisata alam mulai bermunculan.
Namun, pamornya masih tak sebesar wisata buatan.
Komunita meminta agar Pemerintah Kota (Pemkot) Batu untuk fokus mendorong pengembangan wisata alam.
Sebab, wisata alam dinilai punya daya tarik yang lebih tahan lama.
“Orang mau ke Gunung Bromo sepuluh atau dua puluh kali kan pasti mau balik lagi. Meski pemandangan dan suasananya tetap sama alias tidak berubah,” ujar Ketua Batu Guide Community (BGC) Oding Alfarifta.
Alasannya, sekali lagi karena wisata alam tidak akan pernah kehilangan daya tarik.
Berbeda dengan wisata buatan, yang setidaknya dikunjungi paling cepat satu tahun sekali.
Itu jika pengunjung ingin merasakan suasana atau wahana yang berbeda.
Sebab, rata-rata destinasi wisata buatan baru berbenah dan menambah wahana baru setiap satu tahun sekali.
“Untuk itu, kami ingin Pemkot Batu fokus mengembangkan wisata alam,” tegasnya.
Apalagi melihat potensi wisata alam di Kota Batu yang cukup besar.
Di antaranya dengan keberadaan coban, gunung, hingga pertanian.
Sebab, embrio wisata alam sudah mulai muncul.
Ditandai dengan maraknya jip wisata dan penginapan berkonsep glamping.
Selain wisata alam, wisata pedesaan juga mulai menjadi tren.
Misalnya, dengan mengajak wisatawan hidup seolah-olah warga lokal.
Salah satunya dengan ikut melakukan profesinya sehari-hari dan kegiatan-kegiatan yang unik dan khas.
Misalnya, wisata berbasis live in di Desa Punten, Kecamatan Bumiaji.
Di sana wisatawan diajak memerah susu hingga bertani.
Wisata itu dinilai tak membosankan dan membuat wisatawan mendapat pengalaman yang mengesankan.
“Berkaca dari Desa Punten, Pemkot Batu seharusnya bisa memetakan potensi masing-masing desa untuk mengembangkan wisata serupa,” imbuhnya.
Oding mengatakan dalam hal ini tour guide akan berperan sebagai kepanjangan tangan.
Terutama untuk mempromosikan wisata-wisata tersebut.
Dia mengaku itu sudah selalu dilakukan.
Yang jelas tour guide akan menginformasikan hal itu ke agen travel.
Sehingga, akan ada simbiosis mutualisme dengan realisasi konsep wisata tersebut. (iza/dre)
Editor : A. Nugroho