BUMIAJI - Petani tanaman hias di Kota Batu butuh perehatian lebih dari pemerintah.
Terutama dan hal pemasaran dan pembinaan kualitas produk.
Itu imbas dari penurunan minat pasar internasional terhadap produksi tanaman hias dari Kota Batu.
Baca Juga: Tanaman Hias yang Cocok untuk Sudut Rumah: Menambah Asri dan Sejuk di Setiap Sudut
Salah seorang petani dan eksportir tanaman hias Kota Batu Slamet Trias Andryansyah mengatakan seharusnya Indonesia menjadi pemain utama dalam jual beli tanaman hias di pasar global.
Mengingat keberagaman jenis tanaman tropis yang ada.
Dia mengakui dukungan pemerintah bukan satu-satunya faktor penurunan minat pasar internasional.
Namun, juga lantaran faktor ekonomi global atau fluktuasi nilai tukar mata uang dunia.
Baca Juga: Tren Plant Parenting: Merawat Tanaman, Merawat Diri
“Bagaiamana pun dukungan strategis pemerintah tetap krusial,” ujarnya.
Slamet berharap pemerintah bisa mencontoh Thailand.
Pemerintah di sana rutin mengadakan promosi dan pameran tanaman hias setiap bulan bahkan setiap minggu.
Baik secara nasional maupun internasional.
Contohnya adalah Chatuchak Plant Market yang didukung otoritas setempat.
Pasar itu bukan hanya pusat jual beli.
Melainkan juga tempat promosi rutin bagi pelaku usaha tanaman hias yang dihadiri buyer dari berbagai negara.
Pemerintah setempat aktif memberikan fasilitas promosi, pelatihan, hingga koneksi dagang bagi pelaku UMKM tanaman hias.
Pemerintah China bahkan lebih agresif lagi dengan pendekatan digital dan dukungan ekspor berbasis teknologi.
Baca Juga: Petani Tulungrejo Berikan 4 Jenis Tanaman Apel ke Wali Kota
“Seperti e-catalog ekspor, program inkubasi ekspor hortikultura, hingga pemanfaatan platform marketplace internasional,” ujarnya.
Sementara, dia merasa berjalan sendiri tanpa sejumlah fasilitas pemerintah untuk pengembangan bisnis ekspornya.
Selain itu, kurangnya pemahaman petani mengenai standar ekspor tanaman hias.
Alhasil, petani masih banyak yang menggunakan media tanam seperti tanah dan humus.
Baca Juga: Permintaan Sejumlah Komoditas Ekspor di Kota Batu Anjlok
Padahal kedua media itu dilarang dalam pengiriman ekspor.
Alasannya, karena membawa risiko hama dan penyakit.
Itu membuat eksportir harus mencuci akar tanaman sebelum dikirim ke luar negeri.
Proses tersebut membuat tanaman hias rentan mengalami stres dan membutuhkan masa pemulihan saat tiba di tangan pembeli.
“Yang kami khawatirkan adalah penurunan kualitas dan kepercayaan buyer terhadap produk kami,” imbuhnya.
Sementara, petani di Thailand dan China sudah terbiasa menggunakan media tanam yang sesuai standar ekspor.
Seperti cocopeat, peatmoss, dan lavarock.
Sehingga, tanaman mereka bisa langsung dikemas dan dikirim tanpa melalui proses karantina.
Otomatis waktu dan kualitas tetap terjaga. (iza/dre)
Editor : A. Nugroho