Fatalitas Rendah, Tak Ada Korban Meninggal Dunia
BATU - Jumlah kecelakaan lalu lintas (laka lantas) selama Operasi Ketupat Semeru 2025 di Kota Batu turun signifikan jika dibandingkan tahun lalu.
Pada operasi yang sama 2024 lalu, terjadi sembilan laka lantas.
Sedangkan, tahun ini jumlahnya turun menjadi enam kejadian saja.
Tidak hanya itu, fatalitas korban juga turun.
Kasatlantas Polres Batu AKP Kevin Ibrahim mengatakan tahun lalu ada satu korban meninggal dunia dan 12 orang luka-luka.
Sementara tahun ini ada tak ada korban jiwa dalam enam laka lantas yang terjadi.
Hanya ada tujuh korban luka ringan dan satu orang luka berat.
Lokasi kecelakaan cenderung menyebar.
Mulai di Jalan Brigjen Abdul Manan Wijaya, Jalan Raya Ir Soekarno, hingga Jalan Moh Hatta.
Kecelakaan didominasi kendaraan roda dua.
Penyebabnya karena pengemudi kelelahan sehingga tidak konsentrasi.
“Seperti kecelakaan yang terjadi di Desa Ngroto, Kecamatan Pujon pada 31 Maret lalu,” ucapnya.
Kecelakan di sana melibat dua kendaraan roda dua.
Yakni pengemudi sepeda motor Yamaha Jupiter dengan pengemudi Honda Scoopy.
Kevin menyebut kejadian nahas itu diduga lantaran pengemudi Yamaha Jupiter tidak berhati-hati saat putar arah.
Akibatnya, pengendara Honda Scoopy menyeruduk dari belakang.
“Pengendara Yamaha Jupiter mengalami luka cedera di kepala,” imbuhnya.
Dia menilai penurunan jumlah laka lantas terjadi lantaran kesadaran masyarakat dalam disiplin berlalu lintas mulai meningkat.
Mengingat lama operasi tahun ini juga lebih panjang dari biasanya.
Yakni selama 17 hari.
“Biasanya hanya 14 hari saja,” tandasnya.
Selain itu, jumlah kendaraan yang keluar dan masuk Kota Batu selama Operasi Ketupat Semeru 2025 juga mengalami peningkatan signifikan.
Terutama jika dibandingkan dengan catatan dua tahun belakangan ini.
Kabag Ops Polres Batu Kompol Anton Widodo mengatakan tahun ini ada 304.779 ribu kendaraan selama 17 hari operasi semeru.
Pada 2023 ada sebanyak 99,8 ribu kendaran dengan masa operasi 12 hari.
Kemudian, pada 2024 ada 99,1 ribu kendaraan selama masa operasi 13 hari.
Dia menilai peningkatan jumlah kendaraan tersebut, salah satunya karena masa operasi yang lebih panjang.
Puncak tertinggi terjadi pada hari ke 11 operasi.
”Di hari ke-11 terdapat 42 ribu kendaraan yang masuk ke Kota Batu,” ujar Anton.
Dengan rincian 24 ribu kendaraan roda dua, 18,2 ribu kendaraan roda empat, dan 81 kendaraan roda enam.
Menurutnya tren penurunan pemudik mencapai 30 persen secara nasional belum begitu berpengaruh di Kota Batu.
Peneliti Senior Pusat Kebijakan Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya (UB) Joko Budi Santoso mengung kapkan ada beberapa alasan mengapa minat mudik turun.
Salah satunya kondisi perekonomian nasional sedang dalam proses bertahan dari tekanan global maupun domestik.
Perekonomian global yang penuh ketidakpastian berdampak pada efisiensi perusahaan.
Sehingga, beberapa waktu terakhir muncul gelombang rasionalisasi karyawan atau PHK.
Dari sisi domestik, kebijakan transisi dan efisiensi anggaran berdampak pada stimulus fiskal yang melemah.
Khususnya dalam penguatan daya beli dan belanja untuk sektor produktif.
Seperti pembangunan infrastruktur yang bersifat padat karya.
Kendati begitu, Joko mengakui pemerintah telah melakukan sejumlah upaya.
Salah satunya dengan menurunkan harga tiket pesawat dan mudik gratis.
Namun itu belum mampu mendongkrak animo masyarkat untuk tetap mudik.(iza/dre)
Editor : Aditya Novrian