BATU - Luas panen kentang dan wortel di Kota Batu terus meningkat dari tahun ke tahun. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu, luas panen kentang pada 2024 lalu mencapai 396 hektare.
Meningkat dua hektare jika dibanding tahun sebelumnya. Sama seperti luas panen wortel yang meningkat empat hektare pada 2024 dibanding 2023 lalu.
Sebab, luas panen wortel tahun lalu yakni 470 hektare. Sementara, luas panennya pada 2023 hanya 466 hektare saja (selengkapnya baca grafis).
Dua komoditas itu cukup menjanjikan saat ini. Itulah mengapa keduanya tidak turut tertimpa tren penyusutan luas panen seperti komoditas lainnya.
Baca Juga: Petani Tulungrejo Berikan 4 Jenis Tanaman Apel ke Wali Kota
Terutama seperti apel yang menjadi ikon Kota Batu. Tentu peningkatan luas panen itu dibarengi peningkatan produksi. Pada 2024 lalu produksi kentang mencapai 83,3 ribu kuintal per tahun.
Sementara, produksi wortel mencapai 91,2 ribu kuintal. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu Heru Yulianto menyebut ada beberapa alasan mengapa luas panen kentang dan wortel meningkat. Di antaranya permintaan yang tinggi. Khususnya untuk komoditas wortel buah atau wortel brastagi.
“Petani wortel banyak yang beralih ke varietas brastagi atau wortel manis atau wortel buah. Sebab, produktivitasnya lebih tinggi jika dibandingkan dengan varietas wortel lokal,” ujarnya.
Begitupun pada komoditas kentang. Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Bumiaji, Dulkamar, mengatakan peningkatan luas panen kentang disebabkan harga komoditas yang relatif stabil. Terutama selama tiga tahun belakangan ini.
Baca Juga: Petani Kota Batu Tak Minat Tanam Singkong meski Dapat Pupuk Subsidi
“Tak pernah di bawah Rp 10 ribu per kilogram,” ujarnya.
Selain itu, kentang dari Kota Batu memiliki kualitas unggul. Termasuk jika dibandingkan dengan kentang dari Pujon, Kabupaten Malang.
“Makanya kentang dari Kota Batu harganya juga lebih tinggi,” ungkapnya.
Perbedaan kualitas tersebut lantaran faktor lahan. Kentang juga bisa tahan sampai 30 hari lebih. Sehingga, risiko kerugian akibat busuk relatif kecil. (iza/dre)
Editor : Aditya Novrian