Jumlah penumpang angkot di Kota Batu terus merosot.
Apalagi selama memasuki bulan Ramadan tahun ini.
Padahal pada hari-hari biasa jumlah penumpangnya juga sudah sedikit.
Otomatis itu berdampak pada pendapatan para sopir.
Dari yang biasanya bisa memeroleh Rp 100 ribu per hari kini susut menjadi Rp 70-80 ribu saja.
Salah seorang sopir angkot jurusan Landungsari-Batu, Sukatmin, 67, mengaku hanya bisa membawa 3-4 penumpang saja sekali jalan.
Itu terjadi sejak masuk bulan puasa 1 Maret lalu.
Dia menjelaskan bila penghasilan Rp 100 ribu tiap hari itu merupakan pendapatan kotor.
Sebab, itu masih harus dipotong biaya operasional.
Misalnya, untuk bensin dan makan sebesar Rp 60 ribu.
Itu artinya, setiap harinya Sukatmin masih mengantongi sisa uang Rp 40 ribu.
Beruntung, selama puasa dirinya bisa memangkas kebutuhan makan.
Sehingga, sisa uang yang bisa dibawa pulang relatif tetap.
Dalam sehari biasanya dia beroperasi dua kali pulang pergi (PP).
“Beruntung rata-rata angkot sudah milik pribadi para sopir. Sehingga, tidak perlu membayar uang sewa armada,” terangnya.
Jika tidak, tentu pekerjaan menjadi sopir angkot sudah benar-benar tak bisa dipertahankan.
Dia menyebut geliat angkot sudah berbanding terbalik dengan 15 tahun lalu.
Saat itu pendapatan sopir masih bisa menyentuh Rp 200 ribu per hari.
“Dulu ada 86 angkot, kini tinggal 40 angkot saja,” imbuhnya.
Sukatmin masih memilih bertahan lantaran tak punya pilihan.
Dia berharap program angkutan pelajar (Apel) gratis bisa terus dimaksimalkan di Kota Batu.
Termasuk di jalur Landungsari-Batu.
Sebab, masih 13 angkot saja yang diberdayakan di jalur tersebut. (iza/dre)
Editor : A. Nugroho