BATU - Angka kunjungan dan daya beli masyarakat di Pasar Induk Among Tani belum sesuai bayangan pedagang.
Itu disinyalir lantaran layout pasar yang kurang tepat.
Seharusnya, pedagang yang menjual kebutuhan pokok berada dalam satu blok tertentu.
Sebab, sejauh ini keberadaan mereka terpisah-pisah.
Itu menyebabkan pengunjung malas berbelanja di sana.
Ketua Komisi C DPRD Kota Batu Dewi Kartika mengaku banyak menampung keluhan itu.
Pengunjung lelah berjalan dari satu kios ke kios lainnya saat harus membeli sejumlah kebutuhan pokok.
“Misalnya kalau mau beli sayur, daging, dan bumbu jarak satu dengan yang lainnya cukup jauh,” ujarnya.
Dewi menyebut perlu ada forum yang membahas terkait keluhan pedagang pasar induk itu.
Setidaknya untuk memberikan gambaran terkait tujuan pengelompokan pedagang berdasarkan zona tertentu.
Itu jika layout pasar induk sudah dianggap sudah tepat.
Namun jika belum, dia meminta agar ada solusi terkait itu.
“Pedagang, pengelola pasar, dan dinas terkait perlu duduk bersama untuk membahas masalah ini,” ungkapnya.
Itu bertujuan agar roda perekonomian pedagang di pasar induk bisa berputar sama rata.
Kondisi seperti ini, masyarakat lebih memilih berbelanja di pasar pagi.
“Kami inginnya semua berjalan seimbang,” imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Ketua II DPRD Kota Batu Ludi Tanarto menyarankan agar pengelola pasar bisa lebih banyak menggelar event-event.
Sehingga, itu juga bisa menjadi ajang mendongkrak kunjungan dan daya beli masyarakat.
“Tentunya hal itu perlu koordinasi antar SKPD,” tandasnya. (iza/dre)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana