Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Jumlah Peternak Ayam Petelur Kota Batu Berkurang 35 Persen

Fajar Andre Setiawan • Minggu, 2 Februari 2025 | 19:50 WIB
STOK AMAN: Jumlah pasokan telur di salah satu toko kelontong di Jalan Agus Salim, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu terpantau aman.
STOK AMAN: Jumlah pasokan telur di salah satu toko kelontong di Jalan Agus Salim, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu terpantau aman.

BATU - Jumlah peternak ayam petelur di Kota Batu terus bekurang.

Kini jumlahnya tinggal sekitar 20 peternak saja.

Padahal sebelum-sebelumnya pertenak ayam petelur mencapai 30 orang.

Penurunan tersebut sudah terjadi sejak pandemi Covid-19 pada 2020 silam.

Penyebabnya, harga pakan yang melambung sedangkan harga telur anjlok.

Ketua Kelompok Peternak Ayam Petelur Kota Batu Rohmat Santosa mengatakan banyak peternak yang merugi.

Pasalnya, harga telur tidak stabil.

Bahkan, sering di bawah harga pokok penjualan (HPP).

Misalnya, HPP dari peternak Rp 23 ribu sedangkan harga telur di pasar dibandrol Rp 22 ribu.

Dia menyebut saat musim hujan seperti sekarang biaya perawatan ayam juga meningkat.

Itu lantaran ayam perlu diberikan vitamin.

Rohmat berharap pemerintah bisa memberikan suntikan modal bergilir.

“Misalnya, ada bantuan bibit ayam petelur sebanyak 2.000 saja untuk satu peternak. Setelah berhasil, modal itu harus digilir ke peternak yang lain,” jelasnya.

Salah seorang anggota Kelompok Peternak Ayam Petelur Kota Batu Ludi Tanarto mengaku tantangan yang dihadapi memang bertubi-tubi.

Selain harga pakan yang terus melambung, kondisi cuaca Kota Batu tampaknya juga tidak cocok untuk memelihara ayam petelur.

Sebab, cuaca yang relatif dingin membuat ayam membutuhkan pakan sedikit lebih banyak.

“Normalnya, kebutuhan pakan ayam dalam sehari menghabiskan 120 gram jagung. Namun karena dingin, ayam butuh makan sedikit lebih banyak yakni 123 gram jagung setiap harinya,” jelas Ludi.

Sementara, Kota Batu bukan sentra penghasil jagung.

Sehingga itu membuat kebutuhan pakan ternak ayam harus bergantung suplai dari daerah lain.

Tentu saja kondisi itu membuat harga pakan semakin mahal.

Ludi menilai itulah yang membuat para peternak ayam petelur akhirnya gulung tikar dan tak melanjutkan usahanya.

Saat ini banyak kandang-kandang peternak yang kosong.

Dia berharap ada bantuan bibit ayam petelur bagi peternak dari pemerintah.

Dengan begitu, mereka bisa bangkit kembali.

Secara keuntungan memang punya selisih dengan peternak dari wilayah lain.

Namun, secara potensi masih menjanjikan.

Sebab hasil produksi yang ada selama ini masih belum memenuhi permintaan pasar.

“Sejauh ini masih mendatangkan dari luar kota. Hanya 15-20 persen saja produksinya selama ini,” pungkasnya. (iza/dre)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#peternak ayam petelur #berkurang #kota batu