BATU - Besaran anggaran yang diajukan Pemerintah Kota (Pemkot) Batu untuk pengadaan bianglala dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja (R-APBD) 2025 mendapat sorotan. Pasalnya, anggaran yang diajukan cukup fantastis. Yakni sebesar Rp 9,7 miliar hingga Rp 13,5 miliar. Padahal pengadaan bianglala di beberapa tempat wisata Kota Batu jauh di bawah itu.
Ketua Komisi C DRPD Kota Batu Khamim Tohari mengatakan perlu kajian terlebih dahulu untuk pengadaan bianglala tersebut. Terutama terkait spesifikasi bianglala dan anggaran yang dibutuhkan. Sebab, Khamim menyebut bila anggaran yang diajukan terlalu besar hanya untuk sebuah bianglala. “Apalagi kalau kita bandingkan dengan bianglala yang ada di Selecta itu kan harganya tidak segitu,” ucapnya.
Untuk itu pihaknya meminta adanya kajian lebih lanjut. Termasuk masalah urgensi dan potensi penghasilan yang bisa menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Batu. Meski begitu, Khamim sepakat bila bianglala di Alun-Alun Kota Batu menjadi salah satu ikon Kota Batu. Namun, pihaknya meminta detail Kajian terkait anggaran yang menurutnya cukup fantastis itu. Bahkan, ia menyarankan agar pengadaan bianglala melalui pihak ketiga saja. “Supaya tahu kita tidak boleh main-main,” tegasnya.
Sebelumnya, Pemkot Batu mengusulkan dua model bianglala untuk mengganti bianglala yang rusak dan telah mangkrak selama 2 tahun lebih di Alun-Alun Kota Batu. Yakni bianglala berdiameter 49 meter dengan 28 kabin dan bianglala berdiameter 52 meter dengan 32 kabin. Tentu saja semakin besar diameter dan semakin banyak jumlah kabinnya, harga bianglala juga semakin mahal.
Estimasi kebutuhan anggaran yang disampaikan untuk bianglala berdiameter 49 meter yakni sebesar Rp 9,7 miliar. Sedangkan, untuk bianglala berdiameter 52 meter estimasi kebutuhan anggarannya sebesar Rp 13,5 miliar. (dre/lid)
Editor : Kholid Amrullah