BATU - Pengadaan bianglala diperkirakan akan menelan biaya sekitar Rp 4,5 miliar. Hal itu bila berkaca dari pengadaan bianglala di Selecta 2019 lalu. Namun, estimasi tersebut hanyalah hitung-hitungan kasar. Melihat kenaikan kurs saat ini yang lebih tinggi 10 persen lebih daripada lima tahun yang lalu.
Direktur Utama PT Selecta Sujud Hariadi mengaku sudah pernah diminta memberikan pertimbangan terkait operasional bianglala di Alun-Alun Kota Batu. Namun, karena melihat masa pakai bianglala tersebut yang Sudah 10 tahun lebih, pihaknya meminta agar Pemerintah Kota (Pemkot) Batu untuk melakukan uji kelelahan besi.
“Proses uji kelelahan tersebut tentunya dilakukan oleh pihak yang berkompeten untuk itu,” ujarnya. Kemudian didapatkan hasil berupa rekomendasi untuk dilakukan pengadaan baru. Alias diganti dengan bianglala yang baru. Sebab, langkah untuk perbaikan akan menimbulkan risiko yang tinggi untuk faktor keamanan.
Sujud mengaku telah memberikan saran agar Pemkot Batu melakukan pengadaan secara mandiri. Alias menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Termasuk untuk pengelolaannya nanti. Sebab, dirinya pun mengaku tidak ada rencana untuk melakukan investasi di luar Selecta.
“Kami lebih fokus untuk mengembangkan investasi di dalam Selecta sendiri,” ucapnya. Lebih lanjut Sujud menambahkan perkiraan biaya yang akan dikeluarkan untuk pengadaan baru bianglala tersebut. Ia mengaku bila pengadaan bianglala di Selecta 2019 lalu menelan dana sebesar Rp 3,5 miliar.
“Saat itu USD kursnya masih 14 ribu. Sementara sekarang kan sudah 15,5 ribu,” imbuhnya. Itu artinya ada selisih kurs 10 persen lebih tinggi. Hal itu juga belum termasuk kenaikan harga bianglala dari China. Termasuk kenaikan biaya Angkutan kapan dari China ke Indonesia, pajak impor, hingga pajak pertambahan nilai (PPN). Sehingga, bisa jadi saat ini pengadaan bianglala baru hingga terpasang membutuhkan dana sekitar Rp 4,5 miliar. (dre/lid)
Editor : Kholid Amrullah