BATU - Musim hujan membuat produksi apel tidak maksimal. Banyak buah yang apel tidak layak untuk langsung dikonsumsi karena penyakitan. Sehingga apel-apel tersebut dikirim ke para pengolah keripik apel. Karena jumlahnya yang banyak, mereka sampai kewalahan untuk mengolah.
Salah seorang produsen keripik apel Tauhid mengatakan, pada musim hujan seperti ini apel akan gampang busuk. Selain itu, buah di ladang juga rentan terkena lalat buah dan jamur. Karena itu banyak buah yang tak layak untuk dijual ke konsumen. "Meskipun buah itu kerusakannya minim tetap tidak bisa dijual secara utuh ke pasaran," ucapnya.
Karena kondisi tersebut, beberapa buah dengan kerusakan minor akan dikirim ke UMKM keripik buah. Salah satunya ke warga Desa Tulungrejo. "Rusaknya tidak parah. Paling hanya kulit buah yang bertotol atau buah apel yang kecil. Namun buah-buah itu sudah tidak bisa masuk ke pasaran," kata pengusaha asal desa Tulungrejo itu.
Tauhid melanjutkan, per harinya ia memproses 4 sampai 5 kuintal apel. Biasanya selain bekerja sama dengan petani apel ia memiliki supplier sendiri. Namun di musim seperti ini Tauhid tidak bekerja sama dengan supplier. "Saya kasihan karena banyak apel tak layak jual. Sehingga cara satu-satunya di buat keripik apel agar roda perekonomian berjalan," ucapnya.
Tauhid mengaku kewalahan. Hal ini disebabkan beberapa apel tak dapat tertampung UMKM-nya. "Kalau dibiarkan di luar apel akan cepat membusuk. Tapi kami juga tidak dapat memproses lebih dari yang sudah ditargetkan," ujarnya.
Kenaikan jumlah apel juga dialami oleh Hariono. Pada hari biasa, pembuat keripik apel itu hanya menerima 1 ton dari petani. Namun di musim-musim seperti ini ia dapat menerima 2 sampai 3 ton per hari. Meskipun begitu warga Desa Tulungrejo tersebut mengaku tidak kewalahan. "Sebenarnya kewalahan atau tidak tergantung daya tampung. Namun, alhamdulillah saya belum ada kendala terkait jumlah stok apel yang meningkat ini," pungkasnya. (sif/lid)
Editor : Kholid Amrullah