Kasus TBC Anak Kota Batu Turun, tapi Penularan Belum Terputus

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 15:30 WIB
Ilustrasi seseorang terkena penyakit TBC (Freepik.com/krakenimages.com)
Ilustrasi seseorang terkena penyakit TBC (Freepik.com/krakenimages.com)

BATU, RADAR BATU - Kasus TBC anak di Kota Batu memang menurun. Namun, 10 anak masih terkonfirmasi tuberculosis hingga triwulan II 2026 menunjukkan penularan belum sepenuhnya terputus.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu menunjukkan kasus TBC anak mencapai 40 kasus pada 2024. Jumlahnya turun menjadi 36 kasus pada 2025.

Hingga triwulan II 2026, terdapat 10 kasus.

Baca Juga: Masih Ada 736 Jiwa di Kota Batu Belum Punya KTP - Radar Batu

Penurunan tersebut menjadi sinyal positif. Tetapi, pemerintah masih harus memastikan kasus ditemukan sedini mungkin dan rantai penularan benar-benar diputus.

Sekretaris Dinkes Kota Batu dr Yuni Astuti mengatakan pengobatan menjadi bagian penting dalam penanganan TBC.

“Penanganan TBC yakni fokus pengobatan sampai sembuh. Pendampingan minum obatnya dengan melibatkan kader TBC,” ujarnya.

Baca Juga: Pengembangan Pasar Kuliner Tulungrejo, Kota Batu Terkendala Modal - Radar Batu

Mengapa kasus anak masih muncul?

Salah satu persoalan TBC adalah penularan melalui kontak dekat dengan penderita. Karena itu, anak yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC perlu diperiksa sesuai indikasi. Lingkungan rumah juga menjadi perhatian.

Ventilasi yang buruk dapat membuat sirkulasi udara tidak optimal. Risiko semakin besar ketika ruangan sempit, tertutup, dan padat dihuni serta terdapat penderita TBC aktif.

Dinkes mendorong masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Kebiasaan mencuci tangan, menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, serta tidak meludah sembarangan perlu terus dibiasakan.

Baca Juga: Data Kasus DBD Tak Sinkron, Pemkot Batu Perkuat Surveilans - Radar Batu

Pemkot siapkan deteksi lebih awal

Pemkot Batu memberikan dukungan pemeriksaan bagi masyarakat yang diduga mengalami TBC.

Pemeriksaan antara lain dilakukan melalui tes cepat molekuler dan foto rontgen. Skrining juga dilakukan di lokasi yang dianggap memiliki risiko untuk menemukan kasus lebih awal.

“Pemkot memberi dukungan untuk pemeriksaan tes cepat molekuler dan foto rontgen bagi pasien terduga TBC,” jelas Yuni.

Baca Juga: Kemarau Panjang, Kekeringan Mengancam Kota Batu hingga November - Radar Batu

Dinkes juga telah menyosialisasikan Rencana Aksi Daerah TBC di seluruh 24 desa dan kelurahan.

Ke depan, pemerintah merencanakan pembentukan desa dan kelurahan siaga TBC. Skrining akan diperkuat melalui integrasi dengan cek kesehatan gratis dan pemeriksaan kontak serumah.

Kader menjadi ujung tombak

Pemerintah tidak ingin penemuan kasus hanya bergantung pada fasilitas kesehatan. Kader kesehatan akan dilibatkan untuk membantu menemukan kasus dan mendampingi pasien menjalani pengobatan.

Baca Juga: Rawan Laka, Jalur Klemuk Kota Batu Masih Ditutup - Radar Batu

Ketua Komisi C DPRD Kota Batu Dewi Kartika mengatakan legislatif mendukung penguatan RAD TBC periode 2026-2030.

Sinergi perlu melibatkan perangkat desa, kader kesehatan, kader posyandu, tokoh masyarakat, hingga pemuda.

“Di dapil kami, masing-masing sudah bersinergi dengan perangkat desa, kader kesehatan, kader posyandu, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda untuk pencegahan TBC,” katanya.

Dewi juga mendorong Pemkot Batu mengejar target eliminasi TBC pada 2030.

Baca Juga: Kemarau Panjang, Kekeringan Mengancam Kota Batu hingga November - Radar Batu

Turun bukan berarti selesai

Penurunan kasus anak dalam dua tahun terakhir patut diapresiasi.

Namun, keberhasilan eliminasi TBC tidak cukup diukur dari turunnya jumlah kasus.

Pemerintah juga perlu memastikan kasus ditemukan lebih cepat, pasien menyelesaikan pengobatan, dan kontak erat terlacak.

Dengan begitu, penurunan kasus TBC tidak hanya menjadi tren sementara.

Editor : Fajar Andre Setiawan
TBC Anak Tuberculosis Skrining TBC Deteksi Dini TBC Desa Siaga TBC