Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Stunting Mentok 10 Persen, Bidan Didorong Putus Siklus Kasus Baru, Dinkes Geser Fokus ke Pencegahan, Target Prevalensi Turun Satu Digit

Rori Dinanda Bestari • Kamis, 25 Juni 2026 | 14:00 WIB
Ilustrasi bidan. (Pexels)
Ilustrasi bidan. (Pexels)

 

BATU, RADAR BATU - Prevalensi stunting di Kota Batu belum beranjak dari kisaran 10 persen. Penurunan kasus yang terjadi setiap tahun belum mampu menggerus angka secara signifikan. Sebab, pengentasan stunting selalu diikuti munculnya kasus baru dalam jumlah hampir seimbang. Kondisi itu membuat bidan menjadi garda terdepan dalam strategi baru Pemkot Batu. Pencegahan sejak masa kehamilan hingga pengasuhan anak di tingkat keluarga jadi prioritas.

Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Kota Batu Srie Fatimah Yuliastuty menjelaskan, intervensi stunting tidak dimulai saat anak lahir. Pencegahan harus dilakukan sejak masa kehamilan melalui penguatan layanan Antenatal Care (ANC) atau pemeriksaan kehamilan rutin. Melalui pemeriksaan tersebut, bidan memetakan kondisi kesehatan ibu hamil.

BACA JUGA: Gugur di Jalur Prestasi SMA? Manfaatkan Kuota Besar SMK 65% Sebagai Skenario Cadangan

Hal itu bertujuan untuk mendeteksi potensi risiko bayi lahir dengan berat badan rendah. Selain itu, juga untuk menekan kasus gangguan pertumbuhan dalam kandungan. Pemantauan dilakukan dengan memanfaatkan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).

“Buku KIA menjadi panduan penting bagi ibu dan keluarga untuk memantau perkembangan janin sejak awal kehamilan,” ujarnya.

Peran bidan juga diperluas hingga fase remaja. Edukasi kesehatan reproduksi dan pencegahan anemia diberikan sejak usia sekolah. Langkah itu dinilai penting karena anemia pada remaja putri menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap lahirnya anak berisiko stunting.

BACA JUGA: Jangan Sampai Terlewat! Cek Kembali Berkasmu Sebelum Submit Pendaftaran Jalur Prestasi Akademik SMA

Di sisi lain, IBI memperketat standar pelayanan seluruh anggotanya. Terutama terhadap bidan praktik mandiri. Pengawasan mutu dilakukan melalui program Bidan Delima dan uji kompetensi berkala untuk memastikan kualitas layanan tetap terjaga. “Kami ingin seluruh bidan memiliki kompetensi yang selalu terbarui sehingga pelayanan kepada masyarakat tetap optimal,” katanya. Dalam praktiknya, bidan tidak bekerja sendiri. Penanganan stunting dilakukan bersama tenaga gizi puskesmas dan kader kesehatan di tingkat dusun. Bidan berperan melakukan pemantauan lapangan, kunjungan rumah, hingga mengawasi konsumsi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita berisiko.

Menurut Srie, tantangan terbesar justru berada pada pola asuh keluarga. Karena itu, edukasi gizi tidak cukup hanya menyasar orang tua. Anggota keluarga lain yang ikut mengasuh anak juga harus dilibatkan. “Sering kali nenek yang menentukan menu harian anak. Karena itu, edukasi harus menjangkau seluruh lingkungan keluarga,” tegasnya. 

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu Aditya Prasaja mengakui laju penurunan stunting selama ini masih berjalan di tempat. Penyebabnya, jumlah anak yang keluar dari kategori stunting hampir selalu mj diimbangi oleh munculnya kasus baru. “Misalnya ada 10 anak yang berhasil keluar dari stunting, tetapi muncul lagi 10 kasus baru. Akhirnya prevalensinya tidak banyak berubah,” ujarnya. 

BACA JUGA: Hanya 7 Mata Pelajaran Ini yang Dihitung di Jalur Prestasi Akademik SPMB 2026

Karena itu, Dinkes mengubah strategi. Fokus tidak lagi bertumpu pada penanganan anak yang sudah stunting. Namun, memperkuat pencegahan sejak gejala perlambatan pertumbuhan atau growth faltering mulai terdeteksi. Menurut Aditya, idealnya setiap 10 anak yang berhasil pulih hanya diikuti maksimal tiga kasus baru.

Dengan pola itu, angka prevalensi stunting dapat ditekan lebih cepat. Untuk mendukung strategi tersebut, kader posyandu kini didorong lebih cermat membaca grafik pertumbuhan anak. Tidak hanya memantau kenaikan berat badan, tetapi juga perkembangan tinggi badan sesuai standar usia. “Kalau berat badan naik tetapi tidak mencapai target minimal kelompok umurnya, itu sudah menjadi tanda peringatan,” jelasnya. Tantangan lain datang dari faktor kesehatan lingkungan. Cuaca yang tidak menentu menyebabkan kasus batuk dan pilek berulang pada anak meningkat. Saat anak sering sakit, energi yang diperoleh dari makanan lebih banyak digunakan untuk proses pemulihan dibanding pertumbuhan.

BACA JUGA: Aksi Vandalisme Marak Kotori Alun-Alun hingga Rumah Warga Kota Batu

Akibatnya, berat badan dan tinggi badan sulit bertambah meski asupan gizi sudah diperbaiki. Karena itu, orang tua diminta lebih disiplin menjaga kesehatan anak dan mengawasi pola konsumsi makanan sehari-hari.

Pemkot Batu kini memperkuat layanan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) hingga tingkat desa. Akurasi data sasaran juga diperketat agar bantuan nutrisi dan intervensi kesehatan benar-benar diterima keluarga yang membutuhkan. Namun, Aditya menegaskan keberhasilan menurunkan stunting tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah dan tenaga kesehatan. Partisipasi keluarga tetap menjadi faktor penentu. “Target kami prevalensi stunting bisa turun menjadi satu digit tahun ini,” pungkasnya. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#kesehatan #pola asuh #anak stunting