Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Jumlah Bidan Stagnan di Angka 180, IBI Jamin Layanan Persalinan Tiap Desa Terkover

Rori Dinanda Bestari • Rabu, 24 Juni 2026 | 14:00 WIB
Ilustrasi bidan. (Pexels)
Ilustrasi bidan. (Pexels)

 

BATU, RADAR BATU - Jumlah tenaga bidan di Kota Batu tercatat stagnan dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Kota Batu, total bidan aktif saat ini berkisar di angka 175 hingga 180 orang. Kendati tidak ada lonjakan personel, kualitas pelayanan kesehatan reproduksi masyarakat dijamin tetap aman.

Ketua IBI Cabang Kota Batu Srie Fatimah Yuliastuty memaparkan, fluktuasi keanggotaan setiap tahunnya bergerak sangat tipis. Stagnasi ini dipicu seimbangnya jumlah tenaga kesehatan (nakes) baru dengan bidan senior yang purnatugas.

BACA JUGA: Nasib Sekda Kota Batu Belum Diputuskan, Wali Kota Minta Publik Bersabar

“Dinamikanya seimbang. Setiap tahun rata-rata ada penambahan 10 bidan baru, tapi yang berhenti juga di angka yang sama,” ungkap perempuan yang akrab disapa Iim tersebut.

Ia merinci, ratusan bidan itu tidak hanya didominasi nakes berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) di puskesmas. Sebagian besar justru merupakan Bidan Praktik Mandiri (BPM).

Para BPM tersebut membuka layanan di permukiman warga. Sisanya mengabdi di fasilitas kesehatan (faskes) rujukan seperti RSUD Karsa Husada dan RS Bhayangkara Hasta Brata. Klaim ketersediaan nakes ini selaras dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu.

BACA JUGA: Kawal Piala Dunia 2026 Tanpa Kelaparan, Intip 3 Promo Makanan Cepat Saji Teman Setia Nobar

Tercatat, seluruh persalinan yang berjumlah 2.697 kasus telah ditangani tenaga medis profesional. Keberhasilan menekan angka persalinan oleh dukun bayi hingga titik nol menandakan tingginya kesadaran medis masyarakat.

Secara rinci, Kecamatan Batu menyumbang angka persalinan tertinggi dengan 1.302 kasus. Disusul Kecamatan Bumiaji sebanyak 735 kasus dan Kecamatan Junrejo 660 kasus.

Iim menegaskan rasio kecukupan bidan tidak bisa diukur dari total populasi penduduk secara umum.

BACA JUGA: Disekap Kekasih 3 Tahun hingga Luka Parah, Kementerian PPPA Kawal Pemulihan Fisik dan Psikis Korban

Tolok ukur ideal kebidanan murni didasarkan pada angka kelahiran dan dinamika jumlah wanita usia subur (WUS) di suatu desa. Meski rasio kebutuhannya diklaim cukup, sebaran bidan di lapangan terpantau timpang. Ranting Kecamatan Batu mendominasi dengan 70 hingga 80 personel.

Sementara Ranting Kecamatan Bumiaji dan Junrejo masing-masing hanya dihuni sekitar 50 bidan. Ketimpangan sebaran ini dinilai wajar. Sebab, Kecamatan Batu merupakan pusat kota sekaligus lokasi berdirinya deretan rumah sakit rujukan berskala makro. Mulai dari RSUD Karsa Husada, RS Bhayangkara, RS Dr. Etty Ashanty, hingga RS Baptis.

BACA JUGA: Bukan Cuma Nilai, Ini Jurusan SMK di Kota Batu yang Wajibkan Tes Kesehatan di SPMB 2026

Meski terpusat di kawasan kota, Iim menjamin penanganan ibu melahirkan di daerah pinggiran tetap terjamin. “Bahkan, kami sudah pastikan di setiap desa pasti ada bidan yang bersiaga membantu pelayanan masyarakat,” tegasnya.

Di sisi lain, Wali Kota Batu Nurochman memastikan pemenuhan tenaga bidan berjalan ideal. Pihaknya terus bersinergi dengan IBI agar standar rekrutmen dan penugasan berjalan presisi. Pemkot Batu juga memperkuat layanan medis pelosok melalui program Satu Desa Dua Dokter.

BACA JUGA: Malang Tiba-Tiba Dingin? Ini Penjelasan di Balik Fenomena Bediding

“Kami memproyeksikan layanan ini merata hingga ke desa. Melalui skema tersebut, penugasan dokter di lapangan wajib didampingi satu perawat dan satu bidan, di luar formasi bidan desa yang sudah menetap,” pungkas Nurochman. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#bidan #layanan persalinan #kota batu #kesehatan