Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Deteksi Dini Kanker Masih Minim Skrining di Kota Batu Ditarget Sasar 1.300 Perempuan Tahun Ini

Fajar Andre Setiawan • Jumat, 6 Februari 2026 | 10:06 WIB
Ilustrasi. Jenis-jenis kanker yang mudah menjangkit orang di usia 20-30. (freepik.com)
Ilustrasi. Jenis-jenis kanker yang mudah menjangkit orang di usia 20-30. (freepik.com)

BATU - Angka kanker payudara dan kanker serviks terus ditekan melalui penguatan deteksi dini oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu. Namun, rendahnya kesadaran masyarakat membuat penemuan kasus masih didominasi stadium lanjut. Tahun ini, Dinkes menargetkan 1.300 perempuan menjalani skrining.

Hal itu sebagai langkah pencegahan dan penanganan lebih cepat. Upaya tersebut dinilai mendesak. Mengingat gejala kanker pada stadium awal kerap tidak terlihat secara kasat mata. Sepanjang tahun ini, tercatat 56 kasus kanker payudara di Kota Batu. Sementara itu, enam perempuan lainnya terdiagnosis kanker serviks.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Batu, dr. Susana Indahwati, menyatakan penekanan kasus dilakukan dengan memutus rantai keterlambatan penanganan medis akibat rendahnya kesadaran deteksi dini. Edukasi pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) dan pemeriksaan payudara klinis (Sadanis) terus digencarkan.

Grafis Penekanan Kasus Kanker Payudara dab Kanker Seviks
Grafis Penekanan Kasus Kanker Payudara dab Kanker Seviks

“Kami memperkuat edukasi Sadari dan Sadanis agar masyarakat lebih peka terhadap perubahan pada tubuhnya,” ujar Susana. Langkah tersebut mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/1930/2022 tentang Panduan Praktik Klinis di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.

Regulasi itu menempatkan deteksi dini kanker sebagai prioritas nasional dalam transformasi layanan kesehatan primer. Melalui perabaan payudara mandiri, kelainan dapat terdeteksi lebih awal. Dengan begitu, pengobatan bisa segera dilakukan. Mulai dari operasi pengangkatan tumor, kemoterapi, hingga radioterapi.

Tingkat kesembuhan pada stadium awal relatif lebih tinggi dibandingkan stadium lanjut. Selain kanker payudara, Dinkes juga menargetkan skrining Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) bagi 1.300 perempuan setiap tahun. Metode ini mampu mendeteksi lesi prakanker serviks dengan sensitivitas 66-69 persen dan spesifisitas hingga 98 persen.

“Metode IVA relatif murah, efektif, dan bisa dilakukan bidan terlatih di puskesmas. Masyarakat tidak perlu ke rumah sakit besar hanya untuk skrining awal,” kata Susana.

Pelayanan skrining massal dilakukan secara berkala di setiap kecamatan.

Dinkes juga meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan serta memastikan sarana prasarana di puskesmas memadai untuk deteksi dini. Pengalaman tahun lalu menunjukkan efektivitas skrining massal.

Saat peringatan Hari Ibu, dari 234 perempuan yang menjalani pemeriksaan, tiga terdeteksi kanker serviks dan tiga lainnya mengalami tumor payudara. “Semakin cepat ditemukan, peluang sembuh semakin tinggi dan risiko komplikasi dapat ditekan,” ujarnya.

Sebagai pencegahan primer, pemerintah juga menyediakan vaksin Human Papillomavirus (HPV) gratis bagi perempuan usia produktif di Kota Batu. Vaksin HPV telah diperkenalkan secara nasional, termasuk bagi siswi sekolah, untuk mencegah kanker serviks sejak dini.

Di sisi pembiayaan, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Batu Erra Widayati memastikan pengobatan kanker ditanggung melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pembiayaan mencakup layanan promotif, preventif, hingga kuratif.

“Sesuai prosedur, seluruh layanan kanker sudah dijamin dalam JKN. Klaim pengobatan bisa dilakukan hingga pasien sembuh,” ujarnya. Setiap puskesmas di Kota Batu juga telah menyediakan tes IVA secara gratis.

Dengan kombinasi deteksi dini, vaksinasi, dan jaminan pembiayaan, pemerintah berharap angka kematian akibat kanker dapat ditekan. Selain itu juga bisa meningkatkan kualitas hidup perempuan di daerah tersebut. (ori/dre)

Editor : Aditya Novrian
#dinkes #kota batu #sadanis #penyakit kanker