BATU - Angka stunting pada balita di Kota Batu menunjukkan perbaikan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) hingga September lalu mencatat prevalensi stunting turun menjadi 10,39 persen dari 11,20 persen pada periode yang sama tahun lalu. Capaian ini berada di bawah ambang target nasional sebesar 12 persen.
Administrator Kesehatan Ahli Muda Dinkes Kota Batu Emi Kusrilowati menilai capaian tersebut tak lepas dari serangkaian intervensi gizi dan program pembinaan kesehatan ibu hamil dan anak balita. Salah satunya melalui kelas ibu hamil untuk mencegah Kekurangan Energi Kronis (KEK) yang berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).
Kelas ini memberi pendampingan terpadu terkait kecukupan gizi, nutrisi, dan perilaku kesehatan calon ibu. Target minimal berat lahir normal yang dikejar adalah 2,5 kilogram dengan panjang bayi 48 sentimeter. Pihaknya juga mengintensifkan Program Pos Gizi Penanganan Stunting (Pozting).
Intervensi itu menyasar bayi di bawah dua tahun (baduta) dengan pendekatan medis dan edukasi. Layanan mencakup pemeriksaan darah lengkap, inisiasi menyusui dini, pemberian makanan bayi dan anak (PMBA), serta edukasi Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Dokter spesialis anak terlibat aktif untuk evaluasi klinis dan perencanaan tindak lanjut.
“Pendampingan kami lakukan mingguan dengan pemantauan berat dan tinggi badan serta asesmen perkembangan. Target intervensi biasanya sekitar 10 minggu agar anak dapat ‘lulus’ dari kondisi stunting,” jelas Emi. Meski data menunjukkan perbaikan, Emi mengingatkan angka stunting masih fluktuatif.
Stunting juga dipengaruhi kondisi kesehatan dan lingkungan. Misalnya, musim hujan dan cuaca tak menentu bisa meningkatkan kejadian infeksi saluran pernapasan dan diare pada bayi. Tentu saja hal itu bisa menjadi faktor yang dapat menurunkan berat badan dan menghambat pemulihan gizi.
Untuk itu dia menekankan peran krusial keluarga. Khususnya ibu dalam pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, pemberian MP-ASI bergizi, kepatuhan kontrol kesehatan, hingga kebersihan lingkungan rumah. “Intervensi layanan perlu didukung perilaku di rumah agar hasilnya berkelanjutan,” pungkasnya. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho