BATU, RADAR BATU – Di balik gemerlap julukan Kota Wisata, Batu pelan-pelan kehilangan wajah aslinya sebagai kota agraris. Sawah yang dulu jadi identitas khas kawasan pegunungan ini kini makin jarang ditemukan. Posisinya digantikan oleh hotel, vila, dan resor baru yang terus bermunculan.
Data terbaru menunjukkan lahan persawahan di Kota Batu saat ini hanya menyisakan sekitar 295 hektare, angka yang terus menurun drastis selama beberapa dekade terakhir. Penurunan ini memicu Pemkot Batu untuk lebih selektif dalam menerbitkan izin pembangunan baru.
Penyusutan itu juga tercermin dalam kebijakan tata ruang. Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 7 Tahun 2022 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2022 sampai 2042 merevisi aturan sebelumnya dengan mengurangi kawasan peruntukan pertanian dari 5.883,44 hektare menjadi 4.200,8 hektare. Artinya, ribuan hektare lahan pertanian resmi berpindah fungsi dalam satu kebijakan saja.
Baca Juga: Warung Kelingan, Rumah Makan Nusantara dengan View Sawah di Junrejo Batu
Di sisi lain, industri perhotelan justru tumbuh subur. Data BPS mencatat jumlah hotel di Kota Batu meningkat dari 973 unit pada 2021 menjadi 1.046 unit pada 2023, bertambah 73 hotel hanya dalam dua tahun. Pertumbuhan secepat ini menunjukkan betapa derasnya arus investasi wisata ke kota kecil ini.
Pemkot Batu sendiri mengaku sadar akan risiko ini. Wilayah Batu disebut berperan sebagai menara air bagi Malang Raya, sehingga kerusakan ekosistemnya bisa berdampak sistemik pada sektor pertanian dan pariwisata di wilayah bawah. Karena itu, investor tetap diperbolehkan masuk asalkan mematuhi pemetaan ruang yang sudah ditetapkan.
Kritik juga datang dari kalangan politisi lokal. Pembangunan hotel, vila, dan kawasan wisata di wilayah hulu dinilai perlu dikendalikan agar tidak mengorbankan kawasan resapan air dan lahan pertanian yang menjadi penopang kehidupan masyarakat. Isu ini bahkan disebut mulai mendapat perhatian dari kalangan muda yang peduli pada isu lingkungan.
Fenomena sawah yang berubah jadi bangunan wisata ini bukan sekadar soal pemandangan yang berubah. Ini soal masa depan pangan, air, dan mata pencaharian warga Batu yang selama ini bergantung pada tanah subur mereka. Pertanyaannya, sampai kapan keseimbangan ini bisa dipertahankan di tengah gempuran investasi yang terus mengalir?
Baca Juga: 423 Hektare Sawah di Kota Batu Dikunci sebagai Lahan Dilindungi
Editor : Aditya NovrianSumber : Diolah dari berbagai sumber