BATU, RADAR BATU – Pemerintah Kota (Pemkot) Batu meminta seluruh Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) tidak menggunakan model bisnis yang seragam. Setiap koperasi wajib terlebih dahulu memetakan potensi ekonomi di wilayah masing-masing sebelum menentukan komoditas maupun unit usaha.
Pemetaan tersebut dinilai penting karena karakter ekonomi setiap desa dan kelurahan di Kota Batu berbeda. Ada wilayah yang kuat di sektor pertanian, pariwisata, perdagangan, hingga produk usaha mikro. Perbedaan tersebut harus menjadi dasar dalam menyusun bisnis koperasi.
Plt Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumperindag) Kota Batu Dian Fachroni Kurniawan mengatakan pemetaan potensi menjadi salah satu pekerjaan penting sebelum KDKMP menjalankan kegiatan komersial. “Jenis komoditas lokal apa yang mau dikelola harus dimatangkan,” ujarnya.
Menurut Dian, koperasi tidak harus selalu membuka toko yang menjual kebutuhan sehari-hari. Model tersebut justru perlu dihindari apabila di wilayah tersebut telah banyak toko kelontong dan usaha ritel milik masyarakat.
Dian mencontohkan Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. Wilayah tersebut memiliki karakter sebagai kawasan wisata dengan keberadaan objek wisata seperti Selecta. Kondisi itu membuka peluang bagi KDKMP untuk mengembangkan komoditas maupun produk yang berkaitan dengan aktivitas pariwisata.
Dengan pemetaan yang tepat, koperasi dapat mengambil peran sebagai penghubung antara potensi ekonomi lokal dan kebutuhan pasar. Produk UMKM maupun komoditas unggulan desa bisa dikonsolidasikan sehingga memiliki daya tawar lebih besar.
Baca Juga: Tempat Berburu Baju Thrifting Murah Berkualitas di Batu, Cocok Buat Kantong Mahasiswa - Radar Batu
Konsep tersebut juga menjadi pembeda antara KDKMP dan usaha ritel masyarakat. Koperasi diharapkan menciptakan rantai ekonomi baru, bukan sekadar mengambil konsumen dari usaha yang sudah ada.
Dian menyebut kesiapan sarana operasional KDKMP mulai terbentuk. Sekitar separo kebutuhan peralatan utama koperasi telah tersedia. Di antaranya kendaraan pengangkut logistik dan rak display untuk gerai.
Namun, fasilitas tersebut baru menjadi modal awal. Koperasi masih harus menentukan komoditas yang akan dikelola, target pasar, serta mitra usaha yang akan digandeng. “Konsepnya harus mengedepankan prinsip saling menghargai eksistensi masing-masing,” katanya.
Baca Juga: Warung Kelingan, Rumah Makan Nusantara dengan View Sawah di Junrejo Batu - Radar Batu
Ketua Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kota Batu Asep Ghozi menilai pemetaan potensi jangan berhenti pada level desa. Analisis bahkan perlu dilakukan hingga tingkat dusun agar unit usaha yang dibentuk benar-benar sesuai dengan kondisi masyarakat.
Ia mencontohkan Dusun Jurangkuali yang mayoritas warganya berprofesi sebagai petani sayur-mayur. Potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi basis bisnis koperasi melalui pengumpulan dan pemasaran hasil pertanian.
Menurut Asep, pola tersebut jauh lebih strategis daripada KDKMP membuka toko ritel. Koperasi dapat mengonsolidasikan hasil produksi warga agar mampu memenuhi kebutuhan pasar dengan volume dan kontinuitas yang lebih terjamin. “Dengan networking yang kuat, KDKMP bisa menjadi penghubung antara potensi lokal dan pasar berskala besar,” jelasnya.
Baca Juga: Sepekan, Tiga Desa di Kota Batu Kantongi Izin Penutupan Jalan - Radar Batu
Karena itu, Asep meminta pengurus KDKMP tidak terburu-buru mengejar pembukaan gerai. Perencanaan bisnis harus dilakukan secara matang agar koperasi mampu bertahan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Dengan model berbasis potensi lokal, KDKMP diharapkan tidak hanya menjadi tempat transaksi. Namun, berkembang menjadi pusat pengembangan usaha yang mampu mengangkat keunggulan masing-masing desa dan kelurahan.
Editor : Fajar Andre Setiawan