Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Rupiah Lemah, Harga Motor Matik di Kota Batu Meroket

Fajar Andre Setiawan • Rabu, 24 Juni 2026 | 19:00 WIB
CEK HARGA: Manajer diler Yamaha melayani pelanggan di Jalan Agus Salim, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu. Melemahnya nilai tukar rupiah berimbas pada naiknya harga sejumlah tipe motor matik.
CEK HARGA: Manajer diler Yamaha melayani pelanggan di Jalan Agus Salim, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu. Melemahnya nilai tukar rupiah berimbas pada naiknya harga sejumlah tipe motor matik.

 

BATU, RADAR BATU - Lonjakan nilai tukar dolar yang menembus Rp 17.843 berdampak langsung pada sektor otomotif di Kota Batu. Kenaikan harga bahan baku komponen, terutama plastik, memicu katrol harga. Berdasarkan data terbaru, tipe Aerox Alpha CBCT ABS mencatatkan lonjakan tertinggi sebesar Rp 3,2 juta. Harganya naik 9 persen dari Rp 34,47 juta menjadi Rp 37,67 juta. Disusul Lexi LX 155 C yang naik Rp 1,73 juta menjadi Rp 29,3 juta.

BACA JUGA: Bersaing dengan Messi dan Mbappé, Erling Haaland Tampil Menggila di Piala Dunia 2026

Sementara itu, varian Fazzio Hybrid naik Rp 225 ribu. Kenaikan seragam sebesar Rp 195 ribu juga terjadi pada Nmax Series dan Grand Filano. SOP Manajer Yamaha SIP Motor Raya Batu Rendy Pratama Putra menyebut penyesuaian harga ini imbas pergerakan mata uang asing dan biaya produksi pabrikan. Industri roda dua kini sangat bergantung pada material global yang harganya ikut bergejolak.

“Kenaikan harga ini imbas dari kurs dolar dan komponen. Sebab, rata-rata bodi motor saat ini didominasi bahan plastik,” jelas Rendy. Penyesuaian harga tersebut langsung menekan volume penjualan diler. Bulan ini, angka penjualan turun menjadi 35 unit dari rata-rata sebelumnya 40 unit. Meski begitu, Rendy menilai pasar otomotif lokal masih cukup tangguh.

BACA JUGA: Tiga Perda Strategis Kota Batu Akhirnya Diketok Palu

“Daya beli tergolong stabil. Meskipun harga naik, masyarakat mau tidak mau tetap beli karena motor sudah jadi kebutuhan sehari-hari,” imbuhnya. Menyiasati konsumen yang mulai berhemat, pihak diler gencar menerapkan strategi jemput bola dan promosi digital. Tujuannya untuk menjaga tren penjualan tunai maupun kredit.

Tekanan harga kendaraan baru ini dirasakan langsung Ramadhan Sabith Imamana Alfaridzi. Pekerja asal Desa Torongrejo itu terpaksa menunda rencananya membeli motor baru. Sebab, keuangannya masih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pokok. “Keinginan beli motor baru ada, tapi dananya belum cukup,” ungkapnya.

BACA JUGA: 50 Kontingen Ngarak Banteng di Songgoriti, Kota Batu

Ia mengaku baru memiliki tabungan sebesar Rp 800 ribu. Pasalnya, dirinya pun masih harus melunasi cicilan HP. Ia berharap pemerintah mengevaluasi standar upah minimum kota (UMK).

Penyesuaian gaji dinilai sebagai satu-satunya jalan agar pekerja lokal bisa bertahan sekaligus menyisihkan tabungan. “Semoga upah bisa naik menjadi Rp 5 juta. Sebab, sekarang semua harga barang sudah mahal,” pungkasnya. (kr2/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#harga matik meroket #harga matik #rupiah anjlok