BATU, RADAR BATU - Gelombang kenaikan harga bahan baku global memicu lonjakan harga obat-obatan dan alat kesehatan (alkes). Kenaikan serentak di tingkat eceran menyentuh angka 20 hingga 30 persen. Kondisi ini membuat konsumen di Kota Batu pasrah. Sebab, obat merupakan kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda pemenuhannya.
Pergerakan harga terekam jelas di Apotek Madison. Pramuniaga Apotek Madison Triatin menyampaikan komoditas medis esensial seperti antibiotik semula ditebus seharga Rp 10 ribu. Kini harganya melonjak menjadi Rp 13 ribu per strip. Tren serupa menyasar produk perawatan bayi dan kebutuhan klinis harian.
BACA JUGA: Sama-Sama Pakai Prestasi: Ini Beda Jalur Nilai Akademik dan Hasil Lomba di SPMB
Harga minyak telon merangkak naik dari Rp 23.500 menjadi Rp 25.500. Alat tes kehamilan ikut terkerek dari Rp 8.500 menjadi Rp 10 ribu. Kenaikan barang mendesak ini jelas menempatkan pembeli pada posisi dilematis. Pengunjung Apotek Madison Muhammad Mustakim terpaksa merogoh kocek lebih dalam demi mendapatkan obat.
“Obat-obatan dan alkes serentak naik 20 sampai 30 persen. Kami sering mendapat komplain pembeli karena harganya sudah berbeda,” keluh Triatin. Sektor farmasi hilir kini terpaksa merasionalisasi harga. Mereka sangat bergantung pada komponen impor yang sensitif terhadap pergerakan kurs mata uang. Pihak apotek tidak memiliki pilihan selain mengikuti standardisasi harga baru dari distributor pusat.
BACA JUGA: Begini Cara Memaksimalkan Kuota Jalur Mutasi Orang Tua Sering di SPMB Jatim 2026
“Saya butuh seberapapun tetap saya beli,” ujarnya. Sebenarnya, ia mengaku sangat keberatan. Namun, ia paham kenaikan harga serentak itu tidak lepas dari pengaruh nilai tukar dolar yang melejit. Penyesuaian tarif yang terjadi simultan hampir di seluruh lini produk kesehatan itu memicu rentetan keluhan pembeli setiap harinya. (kr2/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan