Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Okupansi Hotel di Kota Batu Mentok 80 Persen, Pelemahan Rupiah dan Daya Beli Jadi Pemicu

Rori Dinanda Bestari • Jumat, 12 Juni 2026 | 14:30 WIB
PENDAPATAN STAGNAN: Sejumlah hotel di Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Batu menjadi salah satu hotel yang menjadi jujugan wisatawan luar daerah.
PENDAPATAN STAGNAN: Sejumlah hotel di Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Batu menjadi salah satu hotel yang menjadi jujugan wisatawan luar daerah.

 

BATU, RADAR BATU - Industri perhotelan di Kota Batu mulai merasakan dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Di tengah kenaikan biaya operasional dan melemahnya daya beli masyarakat, tingkat hunian hotel pada Juni 2026 tertahan di kisaran 80–90 persen dan belum mampu kembali menyentuh angka penuh seperti tahun-tahun sebelumnya.

BACA JUGA: Suhu Menurun Drastis, ini 5 Fakta Fenomena Bediding yang Membuat Malang Raya Terasa Sangat Dingin

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu Sujud Hariadi mengatakan kenaikan harga berbagai komponen operasional, mulai dari energi hingga bahan baku yang bergantung pada impor, membuat pelaku usaha berada dalam posisi sulit.

“Kenaikan biaya operasional ini langsung memukul kami. Sementara di sisi lain, daya beli masyarakat sedang menurun drastis,” ujarnya.

BACA JUGA: Sambangi Istana, Mantan Wapres Jusuf Kalla Lakukan Diskusi Strategis dengan Presiden Prabowo

Menurut Sujud, kondisi tersebut memaksa pengusaha hotel menahan diri untuk tidak menaikkan tarif kamar secara agresif meski memasuki musim liburan. Jika harga dinaikkan terlalu tinggi, dikhawatirkan wisatawan justru memilih destinasi lain yang lebih terjangkau.

Berbeda dengan beberapa tahun lalu ketika okupansi bisa mencapai 100 persen dan tarif kamar meningkat signifikan saat musim ramai, kini tingkat hunian hotel hanya bertahan di kisaran 80 hingga 90 persen.

Ia juga melihat adanya perubahan preferensi wisatawan. Masyarakat kini cenderung memilih destinasi wisata alam yang lebih hemat biaya, termasuk kawasan pantai, sehingga persaingan antardaerah tujuan wisata semakin ketat.

BACA JUGA: Temani Euforia Piala Dunia 2026 dengan Set List Lagu Resmi FIFA Ini

Menariknya, hotel kelas melati justru mampu mempertahankan tingkat okupansi sekitar 80 persen. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan semakin sensitif terhadap harga dan lebih selektif dalam menentukan pilihan akomodasi.

Senada dengan itu, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Kota Batu Farida Anifah menyebut tekanan ekonomi membuat masyarakat memprioritaskan kebutuhan pokok dibanding pengeluaran untuk rekreasi.

BACA JUGA: Catat Waktunya! Ini Jadwal Siaran Langsung Opening Ceremony Piala Dunia 2026 di Tiga Negara, Tayang Live di TVRI

“Masyarakat kini lebih memprioritaskan kebutuhan pokok. Dana untuk rekreasi pun akhirnya ditekan seminimal mungkin,” katanya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi industri pariwisata Kota Batu yang selama ini bergantung pada tingginya mobilitas wisatawan saat musim liburan. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#okupansi hotel stagnan #dampak rupiah anjlok #lemahnya daya beli