BUMIAJI, RADAR BATU - Perubahan iklim ekstrem akibat fenomena global tidak selalu menjadi momok menakutkan bagi sektor agraria di Kota Batu. Di saat komoditas pangan lain tiarap akibat kekeringan, budidaya stroberi di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji justru mendulang lonjakan produksi dengan kualitas buah prima pada akhir Mei ini.
Karakteristik tanaman stroberi secara biologis memang lebih adaptif terhadap intensitas cahaya matahari yang tinggi dibandingkan curah hujan. Cuaca terik yang melanda kawasan pegunungan Kota Batu membuat buah tumbuh lebih lebat. Warnanya merah merona dan memiliki rasa yang jauh lebih manis.
BACA JUGA: Bukan Cuma Wisata, Batu Punya Banyak Agrowisata Menarik
Salah seorang pemilik kebun stroberi, Sulianto memodifikasi keterbatasan lahan dengan teknik budidaya vertikultur rumahan yang efisien. Ia memanfaatkan 2.500 polibag ukuran 40. Setiap wadah diisi tiga hingga empat bibit tanaman. Pola ini terbukti hemat ruang. Dia hanya membutuhkan waktu tiga bulan dari masa tanam awal hingga panen perdana tiba.
Manajemen nutrisi tanaman diterapkan secara disiplin dan terukur. Sulianto memadukan pupuk kimia jenis Urea, ZA, dan NPK 16 seminggu sekali. Pasokan hara makro tersebut diimbangi dengan pupuk organik kotoran ayam setiap dua minggu. Mitigasi hama thrips dilakukan secara situasional melalui penyemprotan pestisida sebulan sekali.
Formulasi perawatan intensif ini menghasilkan produktivitas tinggi. Setiap 100 polibag mampu menyuplai satu kilogram stroberi segar untuk dipetik rutin dua hari sekali. Dari total populasi tanaman yang dikelola, Sulianto mampu mengantongi puluhan kilogram buah segar pada setiap ritme panen.
Dia mengaku rata-rata kunjungan harian mencapai 50 orang. Angka ini melonjak hingga 300 orang saat akhir pekan. Pasar domestik pun terlampaui seiring masuknya wisatawan mancanegara asal Singapura, Brunei Darussalam, dan Malaysia. Di lokasi ini, pengunjung disajikan pengalaman memetik buah langsung dari pohon. (Ramyzard Rafsanjani/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan