BATU, RADAR BATU - Lonjakan permintaan bahan pokok selama momen Hari Raya Idul Adha memicu gejolak harga di pasaran. Tiga komoditas yakni cabai merah, cabai rawit, dan beras mengerek inflasi di Kota Batu secara signifikan pada akhir Mei ini. Di samping itu masyarakat juga dihadap kan pada anomali meroketnya harga beras akibat efek fluktuasi harga plastik.
Tren pembengkakan harga ini terekam jelas dalam Indeks Perkembangan Harga (IPH) Kota Batu. Pada pekan kedua Mei, inflasi masih tertahan di level 0,89. Memasuki pekan ketiga, polanya memburuk dan melesat tajam menyentuh angka 1,07.
Analis Kebijakan Ahli Muda Bagian Perekonomian dan SDA Setda Kota Batu Diyah Wahyuni menunjuk dua varian cabai sebagai penyumbang utama inflasi daerah
"Cabai merah menyumbang inflasi dengan andil 0,4746. Angka ini disusul cabai rawit sebesar 0,4649," jelas Diyah kemarin (28/5).
Baca Juga: Harga Cabai Besar Mulai Turun, Rawit Masih Bertahan di Angka Rp 120 Ribu
Gejolak komoditas pedas ini dinilai sebagai siklus pasar tahunan. Permintaan masyarakat terhadap bumbu masakan melonjak tajam seiring tradisi mengolah daging kurban. Di tingkat eceran, harga cabai merah telah menembus Rp 56 ribu per kilogram. Padahal, dalam kondisi normal, konsumen cukup membelinya di kisaran harga Rp 45 ribu per kilogram.
Di luar komoditas bumbu, anomali inflasi justru terjadi pada pergerakan harga beras. Kebutuhan pokok ini secara mengejutkan ikut menjadi motor penggerak inflasi jelang hari raya. Andil komoditas beras tercatat naik dari 0,145 pada pekan kedua, menjadi 0,161 pada pekan ketiga.
Kondisi ini tergolong tidak lazim. Biasanya fluktuasi harga jelang Idul Adha ha nya menyentuh sektor cabai, bawang, dan daging. Sementara itu, stok dan harga beras biasanya cenderung stabil. Faktor pemicu naiknya harga beras kali ini ternyata bukan berasal dari krisis pasokan gabah petani.
Baca Juga: Jelang Ramadan, Harga Cabai di Pasar Induk Among Tani Kota Batu Tembus Rp 100 Ribu
"Untuk beras, pemicunya murni karena adanya kenaikan harga plastik," ungkap Diyah. Mahalnya harga bahan baku plastik di pasaran global memukul telak industri pengemasan di tingkat hilir.
Akibatnya, biaya bungkus beras ikut membengkak. Demi menjaga margin keuntungan dan menutup biaya operasional kemasan, produsen dan pedagang eceran terpaksa membebankan selisih harga tersebut langsung kepada konsumen. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho