BATU, RADAR BATU - Rapuhnya manajemen rantai pasok kebutuhan pokok di Kota Batu kembali memukul daya beli masyarakat. Akibat tersendatnya distribusi, harga daging ayam di Pasar Induk Among Tani tembus Rp38 ribu per kilogram awal Mei ini.
Salah seorang pedagang, Mariani membeberkan bahwa tren kenaikan sudah terasa sejak 28 April lalu. Saat itu, harga daging ayam masih di angka Rp 35 ribu per kilogram. “Pasokan makin susah didapat. Kenaikannya bertahap nyaris Rp 1 ribu per harinya,” ungkap Mariani.
BACA JUGA: Siswa Menghadapi Tekanan Akademik, Ini Upaya Penanganannya
Kelangkaan ini dipicu anomali ritme distribusi. Momen libur panjang membuat pengiriman ayam hidup dari sentra produksi terhenti. Di sisi lain, grafik permintaan dan konsumsi harian masyarakat tidak mengalami penurunan.
Posisi pedagang di Kota Batu pun rentan karena tingginya ketergantungan pada pasokan luar daerah. Selama ini, mereka menyandarkan stok ayam hidup dari peternak di wilayah Kabupaten Malang dan Blitar.
Imbasnya, fluktuasi harga di tingkat hulu langsung mencekik pedagang eceran. Saat ini, harga ayam hidup utuh, lengkap dengan bulu dan jeroan di tingkat tengkulak sudah menyentuh Rp 25 ribu per kilogram.
BACA JUGA: Peringati Hardiknas, Pemkot Batu Genjot Kualitas SDM Lewat Program Seribu Sarjana
Krisis pasokan ini dikonfirmasi pedagang lain, Didik Suliyadi. Ia mulai merasakan seretnya aliran barang sejak 29 April. “Informasi dari pihak distributor, stok ayam yang siap panen di kandang memang menipis,” jelasnya.
Situasi ini masih menyimpan potensi inflasi lanjutan. Mariani memprediksi kurva harga daging ayam akan terus menanjak dalam waktu dekat. Bayang-bayang peningkatan permintaan menjelang perayaan Idul Adha menjadi faktor pemicu utama. (dia/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan