MALANG KOTA, RADAR BATU - Perubahan pola belanja masyarakat menggerus pasar tradisional. Sentra penjual helm di Jalan Trunojoyo, kawasan Stasiun Kota Baru Malang, kini sepi pembeli. Hal itu terjadi seiring peralihan konsumen ke marketplace.
Lapak-lapak yang dulu ramai kini kehilangan daya tarik. Deretan etalase masih berdiri, tapi aktivitas jual beli menurun drastis. Pedagang mengaku omzet anjlok dalam beberapa tahun terakhir.
Dimas, salah satu pedagang yang telah bertahan lebih dari dua dekade, merasakan penurunan paling tajam tahun ini. Lokasi strategis tak lagi menjamin keramaian. “Sekarang sehari satu-dua pembeli saja sudah disyukuri,” ujarnya.
Bagi Dimas, bertahan bukan soal untung. Ia tetap harus menutup biaya operasional, termasuk sewa lahan. Di tengah penurunan penjualan, beban tetap berjalan. “Yang penting masih bisa muter,” katanya.
Tekanan serupa dirasakan pedagang lain. Muslimah menyebut pandemi Covid-19 menjadi titik awal perubahan. Setelah itu, pola belanja masyarakat bergeser cepat ke platform digital.
Menurutnya, pesaing utama bukan lagi sesama pedagang, melainkan sistem marketplace.
Harga lebih kompetitif dan akses lebih mudah membuat pembeli beralih. Namun, tidak semua pedagang mampu mengikuti perubahan. Keterbatasan literasi digital menjadi kendala utama. Muslimah mengaku belum berani masuk ke platform online.
“Tidak paham cara jualannya. Takut rugi,” ujarnya. Akibatnya, pedagang cenderung bermain aman. Mereka enggan menambah stok, terutama untuk produk dengan harga tinggi. Risiko tidak terjual dinilai terlalu besar.
Saat ini, keberlangsungan usaha bergantung pada pembeli yang kebetulan melintas di kawasan stasiun. Tanpa strategi baru, penurunan diperkirakan berlanjut. Kondisi ini memunculkan kebutuhan intervensi.
Editor : Fajar Andre Setiawan