Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Potensi Ekspor Tersandera Tiga Masalah, Legalitas Belum Rapi, Keterampilan Produksi Minim, dan Bahan Baku Terbatas 

Zanadia Manik Fatimah • Minggu, 29 Maret 2026 | 14:30 WIB
EKSPOR PERDANA: Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batu melakukan kunjungan pada tempat produksi perdana makanan ringan di Kota Batu. RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU
EKSPOR PERDANA: Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batu melakukan kunjungan pada tempat produksi perdana makanan ringan di Kota Batu. RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU

 

BATU, RADAR BATU - Peluang ekspor Kota Batu belum benar-benar bisa dikonversi menjadi transaksi. Di tengah potensi komoditas lokal yang besar, banyak pelaku usaha masih tertahan persoalan legalitas, kualitas sumber daya manusia (SDM), dan pasokan bahan baku. Kondisi itu diakui Pemerintah Kota Batu dalam pendampingan usaha yang berjalan belakangan ini.

Pelaksana Pengolah Data dan Informasi Ekspor dan Impor Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumperindag) Kota Batu Edwin Dwi Sasongko mengatakan komoditas lokal sebenarnya punya peluang masuk pasar luar negeri. Produk itu mencakup sayur-mayur, olahan pangan berbasis hasil pertanian, hingga kerajinan tangan.

“Banyak usaha di Kota Batu yang sebenarnya punya potensi besar untuk ekspor karena komoditasnya kuat,” ujarnya. Masalahnya, kata Edwin, potensi itu belum otomatis berujung ekspor. Sejumlah permintaan dari luar negeri justru belum mampu dipenuhi pelaku usaha. Salah satu hambatan utama ialah keterbatasan SDM.

Permasalahan itu paling banyak ditemui di sektor kerajinan. Sebab, sektor tersebut menuntut keterampilan teknis tinggi. Ia mencontohkan, pernah ada permintaan kerajinan dari Jepang dengan tingkat kesulitan cukup tinggi. Sayangnya, pesanan itu belum bisa dipenuhi karena kemampuan pengrajin dinilai belum memadai.

BACA JUGA Tabrakan Tiga Kendaraan di Jalan Pattimura Kota Batu Berakhir Damai

“Akhirnya permintaan itu belum bisa terakomodasi,” jelasnya. Masalah ini menunjukkan bahwa persoalan ekspor tidak berhenti pada akses pasar. Ketika kapasitas produksi belum sejalan dengan standar pembeli, peluang dagang mudah lepas sebelum masuk tahap transaksi.

Selain SDM, hambatan lain datang dari legalitas usaha. Sejumlah pelaku usaha yang dinilai berpeluang ekspor ternyata belum mengantongi dokumen yang dibutuhkan untuk menembus pasar internasional. Akibatnya, peluang yang sudah terbuka pun tertunda.

Edwin mencontohkan satu usaha madu asal Kota Batu yang sempat bersiap ekspor. Rencana itu belum berjalan karena proses legalitas belum tuntas. “Seperti salah satu usaha madu yang hendak ekspor, tetapi legalitasnya belum tuntas,” katanya.

Persoalan berikutnya ialah bahan baku. Pada beberapa produk, terutama kerajinan, kebutuhan material dalam jumlah besar sering tidak bisa dipenuhi. Akibatnya, pelaku usaha sulit menjaga kapasitas produksi saat permintaan meningkat.

Menurut Edwin, kendala ini tampak pada usaha kerajinan kayu. Sebagian pengrajin bahkan harus mengambil bahan dari luar daerah, tetapi pasokannya tetap belum mencukupi. “Misalnya kerajinan dari kayu yang bahannya diambil dari Blitar, tetapi ternyata tetap tidak mencukupi,” imbuhnya.

BACA JUGA Korban Penganiayaan di Warung Kopi Desa Pesanggrahan Kota Batu Tunggu Ganti Rugi Materi

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan ekspor Kota Batu masih bersifat mendasar. Masalahnya bukan hanya mencari pembeli luar negeri. Namun, memastikan pelaku usaha siap dari hulu sampai hilir. Misalnya, dengan memiliki kelengkapan dokumen, tenaga kerja terampil, dan bahan baku yang aman.

Untuk menutup celah itu, pemerintah kota mengklaim mulai memperkuat pendampingan. Salah satu langkah yang ditempuh ialah bekerja sama dengan pemerintah provinsi melalui misi dagang. Pemkot juga mulai memetakan komoditas yang dinilai paling siap didorong ke pasar ekspor.

Selain itu, pemerintah kota sempat mengikuti Program Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) yang difasilitasi Bea Cukai. Program itu diarahkan untuk meningkatkan daya saing pelaku usaha berorientasi ekspor.

BACA JUGA Struktur Dagang Kota Masih Ditopang Pasar Domestik, Gejolak Global dan Ongkos Logistik Memaksa Eksportir Menggeser Market

Kepala Bidang Perdagangan Diskumperindag Kota Batu Andry Yunanto mengatakan pemerintah akan memperbesar fasilitasi bagi pelaku usaha yang berpotensi masuk pasar luar negeri. Fokusnya antara lain pada legalitas usaha dan dukungan terhadap penyediaan bahan baku.

“Fasilitasi legalitas dan fasilitasi produksi bahan baku akan terus kami dorong. Dua hal itu memang menjadi faktor penting,” ujarnya. Ia menyebut penguatan pasar tidak hanya diarahkan ke distribusi antardaerah di dalam negeri. Pemerintah juga mulai membidik pasar Asia Tenggara untuk produk unggulan Kota Batu.

Menurut dia, sedikitnya sudah ada empat komoditas yang diproyeksikan bisa segera berproses menuju ekspor. Namun tanpa pembenahan pada tiga masalah utama tadi, target itu berisiko kembali berhenti di tahap wacana.

Editor : Fajar Andre Setiawan
#ekspor makanan #ekspor #bisnis