Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Sering Diguyur Hujan, Pendapatan Pedagang Takjil di Kota Batu Menurun

Aditya Novrian • Minggu, 1 Maret 2026 | 15:45 WIB

Ilustrasi pasar takjil. (Freepik).
Ilustrasi pasar takjil. (Freepik).

BATU - Intensitas hujan yang tinggi dalam sepekan terakhir menekan jumlah kunjungan di Pasar Takjil Kota Batu selama Ramadan 2026. Cuaca buruk yang kerap turun pada sore hari, bertepatan dengan jam operasional pasar, membuat aktivitas jual beli tak seramai tahun lalu.

Sebagian pedagang bahkan memilih tidak berjualan saat hujan deras mengguyur.

Muthoharoh, pedagang cireng isi, mengaku dua hari absen karena cuaca ekstrem. Sejak hari pertama buka pada 20 Februari lalu, ia menilai tren pengunjung memang menurun. Tahun lalu ia membawa 400 potong cireng isi per hari dan hampir selalu habis. Tahun ini stok dikurangi menjadi 200 potong. “Kelihatannya lebih sepi. Jadi saya kurangi stok,” katanya.

Meski demikian, dagangannya tetap ludes sebelum pukul 17.00. Ia berencana menambah produksi menjadi sekitar 300 potong per hari. Satu porsi berisi enam potong. Menurutnya, penurunan pembeli tidak hanya dipicu hujan. Ia melihat daya beli masyarakat masih lemah. Selain itu, titik-titik takjil baru di desa dan kelurahan membuat persaingan semakin tersebar.

Ketua Paguyuban PKL CFD Mbatu Sae sekaligus koordinator Pasar Takjil Rudi Syafii menyebut tingkat kehadiran pedagang baru sekitar 80 persen dari total yang terdaftar.

Beberapa hari terakhir pasar tampak lengang akibat hujan. Namun pada 25 Februari lalu, kunjungan mulai membaik seiring cuaca cerah.

Mayoritas pengunjung berasal dari Kecamatan Batu. Sebagian datang dari Pendem dan wilayah sekitar. Rata-rata belanja diperkirakan berkisar Rp40-80 ribu per orang. “Secara umum ada penurunan pembelian. Pedagang mengurangi stok agar tidak rugi,” katanya.

Ia menilai penambahan pedagang belum diperlukan. Saat ini jumlahnya sekitar 110 orang. Jika pun bertambah, maksimal 120 pedagang. Tahun lalu jumlahnya sempat mencapai 150 pedagang.

Sejumlah pengunjung mengakui suasana tahun ini berbeda. Yesi, warga Ngaglik, menilai jumlah pedagang dan pembeli memang berkurang. Meski begitu, ia tetap datang karena pilihan makanan lebih lengkap dibandingkan di sekitar rumahnya. “Hari ini habis sekitar Rp80 ribu,” katanya.

Triana, pengunjung yang merupakan warga Pesanggrahan, juga merasakan hal serupa. Ia mengaku belanja takjil sekitar Rp100 ribu per hari, tergantung kebutuhan keluarga. “Kalau anggota keluarga sedang buka puasa semua di rumah pasti butuh takjil banyak,” ucapnya.

Di sisi lain, pasangan pedagang takoyaki dan taiyaki, Ari Widowati dan Gunawan, memilih tidak berjualan saat hujan deras pada 24 Februari lalu. “Kalau hujan memang langsung berdampak pada jumlah pembeli,” ujarnya.

Kombinasi cuaca ekstrem, persaingan titik takjil baru, dan melemahnya daya beli menjadi faktor utama turun nya kunjungan tahun ini. Pedagang pun bersiasat dengan memangkas stok dan menyesuaikan produksi agar tetap bertahan di tengah pasar yang lesu. (dia/dre)

Baca Juga: Sepekan Puasa, Harga Buah dan Sayur Kompak Naik

Disunting ulang oleh Marsha Nathaniela

Editor : Aditya Novrian
#cuaca ekstrem #pasar takjil #kota batu #hujan lebat