BATU - Sektor pertanian kembali jadi tumpuan harapan sebagai penggerak ekonomi utama selain pariwisata di Kota Batu. Pada APBD 2026, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) mengalokasikan Rp11,26 miliar untuk lima bidang kerja. Anggaran itu diklaim berorientasi pada program prioritas daerah, mulai dari peningkatan produktivitas hingga transformasi pertanian modern.
Namun, besarnya alokasi ini sekaligus menjadi ujian. Sejauh mana belanja tersebut benar-benar berdampak langsung pada kesejahteraan petani. Dari total anggaran tersebut, Bidang Pertanian menjadi penerima porsi terbesar yakni Rp4,89 miliar. Dana itu diarahkan untuk penguatan sarana produksi, peningkatan teknologi budidaya, serta adaptasi petani terhadap sistem pertanian modern.
“Kota Batu masih bertumpu pada pertanian selain pariwisata. Karena itu, sektor ini kami perkuat dari hulu,” ujar Heru Yulianto, Kepala Distan-KP Kota Batu. Alokasi terbesar kedua mengalir ke Bidang Ketahanan Pangan sebesar Rp3,40 miliar. Anggaran ini difokuskan pada penguatan akses pangan masyarakat, mulai dari pendampingan lumbung pangan hidup tingkat rumah tangga hingga pengendalian kerawanan pangan kelompok rentan.
Sementara itu, Bidang Prasarana memperoleh Rp2,87 miliar untuk mendukung infrastruktur penunjang pertanian. Bidang Penyuluhan mendapat Rp1,78 miliar, sedangkan Bidang Peternakan dan Perikanan dialokasikan Rp1,70 miliar guna mendorong pengembangan subsektor terkait.
Heru menegaskan arah kebijakan anggaran 2026 disusun selaras dengan prioritas pembangunan daerah. Fokusnya bukan sekadar belanja fisik, melainkan juga peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan, bimbingan teknis, dan pendampingan berkelanjutan.
“Program kami arahkan pada penyediaan sarana, pelatihan, dan pendampingan. Termasuk pengelolaan lumbung pangan hidup rumah tangga,” jelasnya.
Selain itu, Distan-KP juga akan memperkuat kampanye pola konsumsi Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA). Upaya tersebut dibarengi promosi produk turunan pertanian lokal serta pengembangan sistem informasi harga pangan agar lebih transparan dan mudah diakses petani maupun masyarakat.
Di sektor perikanan, program restocking benih ikan lokal dan endemik, peningkatan sarana budidaya, serta penguatan Gerakan Gemar Makan Ikan tetap menjadi agenda utama. Diversifikasi produk perikanan juga didorong untuk meningkatkan nilai tambah dan membuka peluang pasar bagi UMKM lokal.
Sementara di sektor pertanian, fokus 2026 diarahkan pada peningkatan teknologi, akses pembiayaan petani, serta pengembangan budidaya ramah lingkungan. Program bantuan bibit unggul, pencegahan penyakit menular hewan, hingga fasilitasi sertifikasi halal juga masuk dalam daftar prioritas.
Tak kalah penting, revitalisasi lahan apel kembali menjadi perhatian. Program ini dinilai krusial untuk mengembalikan identitas Kota Batu sebagai sentra apel nasional. “Revitalisasi apel ini pekerjaan rumah tahunan yang harus dituntaskan bertahap,” tegas Heru.
Anggaran 2026 juga disiapkan untuk penanggulangan bencana pertanian, peningkatan literasi petani milenial, hingga penguatan tata kelola smart farming berbasis data. Beragam bantuan alsintan pun direncanakan, mulai dari cultivator, chopper, power sprayer, mesin perontok padi, hingga alat pengolahan hasil pertanian. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho