BATU - Modernisasi pemerahan susu di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji belum bergerak signifikan. Dari 125 keluarga yang berprofesi sebagai peternak di sana, baru sekitar 15 orang yang menggunakan alat perah elektronik. Sementara, mayoritas masih mengandalkan teknik manual.
Selain keterbatasan adaptasi sapi terhadap alat, sebagian peternak beranggapan pemerahan manual menghasilkan volume susu lebih banyak. Alat perah umumnya baru digunakanpeternak yang memiliki jumlah sapi banyak.
Ketua Koperasi Margo Makmur Mandiri, Muhammad Munir menyebut populasi sapi di Brau terus meningkat pesat. Sekarang jumlah sapi di Brau sekitar 2.000 ekor dari yang sebelumnya hanya 1.600 ekor saja. Kenaikan dipicu tingginya angka kelahiran setiap tahun.
Seiring meningkatnya populasi, kebutuhan susu segar di wilayah Malang Raya juga bertambah. Koperasi mengirimkan suplai terbesar ke pabrik Greenfield berkisar 6.000-9.000 liter per hari.
Selain itu, ada distribusi rutin ke lima titik lain di Kota Malang, termasuk permintaan pabrik keju yang mencapai 1.000 liter setiap tiga kali seminggu. Munir menjelaskan produksi susu per sapi berkisar 15-20 liter per hari.
Pada sapi yang sudah mencapai puncak produksi, angka itu bisa meningkat hingga 35-38 liter. Mayoritas peternak mengantar sendiri susu ke koperasi. Namun, ada juga layanan penjemputan agar susu tetap steril dan tidak terkontaminasi selama perjalanan.
Salah satu peternak Agus Irawan mengatakan dirinya menerapkan sistem campuran dalam pemerahan. Dari 22 ekor sapi miliknya, sebagian diperah dengan alat modern, sebagian lainnya tetap manual.
“Metode manual hasilnya biasanya lebih banyak. Sapi juga lebih tenang,” kata Agus. Beberapa sapi miliknya mampu menghasilkan hingga 35 liter per hari. Sementara sisanya berada di kisaran 25-30 liter. Pemerahan dilakukan dua kali sehari. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho