BATU – Distribusi hasil pertanian melalui Pasar Sayur Kota Batu tak hanya memasok pasar lokal saja. Produk pertanian dari pasar ini sudah rutin dikirim ke berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari Jakarta, Bali, Sumatera, hingga Kalimantan. Pengiriman dilakukan setiap pagi dan sore hari, tergantung permintaan dan waktu penataan sayuran.
“Itu sebabnya pasar tampak sepi di siang hari karena sebagian besar sayuran sudah dikirim ke luar daerah,” ujar Gadis Dewi Primandhasari, Kepala UPT Pasar Induk Among Tani. Ia menambahkan fungsi pasar kini lebih banyak sebagai pusat transit dan distribusi ketimbang lokasi jual beli langsung.
Di area pasar, para pedagang terlihat sibuk menaburkan bubuk magnesium ke sayuran sebelum dikemas dengan kertas. Cara ini digunakan untuk menjaga kesegaran produk selama pengiriman jarak jauh. Salah satu pedagang, Bambang Wahyudi, mengatakan dirinya telah berjualan sejak 1997 dan kini rutin mengirim sayuran ke luar pulau.
“Biasanya dua hari sekali ada permintaan,” tuturnya. Ia menyebut harga sayuran dari Pasar Sayur relatif murah, dengan ongkos kirim ditanggung pembeli. Misalnya sawi putih dijual dengan harga Rp 3 ribu per kilogram. Menurut Bambang, jaringan dagang yang ia bangun sudah luas dan stabil.
Pelanggan dari berbagai daerah tetap setia karena kualitas sayuran dari Kota Batu dikenal segar dan tahan lama. “Mayoritas pedagang di sini memang rutin kirim ke luar kota, selain melayani pembeli lokal,” pungkasnya. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho