BATU - Perubahan rute Bus Trans Jatim di Kota Batu kembali menuai keluhan. Para sopir angkutan kota (angkot) khawatir pendapatannya makin merosot setelah bus beroperasi di jalur yang sama. Rute baru Trans Jatim kini melewati Terminal Landungsari menuju Kota Batu melalui Simpang Tiga Sengkaling, BNS, Jatim Park 2, dan Jalan Imam Bonjol.
Selanjutnya bus berbelok ke Jalan Pattimura, melewati Pasar Induk Among Tani, lalu berakhir di Terminal Batu. Jalur ini persis dengan trayek angkot Batu–Junrejo–Landungsari (BJL) via Tlekung. Koordinator angkot jalur BJL, Mulyono, mengaku belum diajak berdiskusi oleh Pemkot Batu terkait perubahan rute tersebut.
“Teman-teman kaget rutenya berubah. Kami keberatan, karena kondisi sekarang saja sudah sepi penumpang,” ujarnya. Ia menilai kebijakan ini membuat sopir angkot bak sudah jatuh tertimpa tangga. Sebab membawa lebih dari 10 penumpang saja per hari, Mulyono sudah merasa beruntung.
Dari 22 angkot aktif di jalur itu, hanya delapan unit yang kini beroperasi sebagai angkutan pelajar (Apel) gratis. Sementara sisanya masih menarik penumpang reguler. Mulyono berharap Pemkot Batu segera berdialog dengan sopir terdampak dan mempertimbangkan usulan konversi seluruh angkot menjadi Apel gratis.
“Kalau semua dijadikan Apel gratis, sopir punya penghasilan tetap dan tidak akan bentrokan dengan bus Trans Jatim,” katanya. Menurutnya, usulan itu cukup realistis karena permintaan Apel gratis terus meningkat setiap tahun ajaran baru. Banyak siswa SMPN 7 Batu dan SMP Ma’arif belum terlayani, bahkan terpaksa menumpang angkot reguler.
Meski mengakui manfaat Trans Jatim, Mulyono berharap pemerintah tak menutup mata terhadap nasib sopir angkot yang menggantungkan hidup dari trayek lama. “Mayoritas sopir tidak punya penghasilan lain. Kalau penumpang makin sepi, kasihan keluarganya,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batu Hendry Suseno menyatakan akan segera mengundang para sopir untuk mencari solusi bersama. “Kami jadwalkan pertemuan sebelum 4 November. Pasalnya, tangal tersebut kami akan rapat dengan Dishub Provinsi Jawa Timur,” ujarnya.
Hendry tak menampik kondisi angkot sekarang memang lesu. Dari sekitar 25 unit di jalur terdampak, kini hanya sekitar 85 persen yang masih beroperasi. Ia menilai opsi menjadikan angkot sebagai feeder Trans Jatim belum bisa diwujudkan karena banyak catatan terkait operasional angkot.
“Angkot butuh peremajaan agar aman dan nyaman bagi penumpang,” katanya.Terkait usulan penambahan armada Apel gratis, Hendry menyebut belum memungkinkan dilakukan karena keterbatasan anggaran. Saat ini terdapat 68 armada Apel gratis yang masing-masing menerima upah Rp 129 ribu per hari.
Para sopir akan menerima pembayaran gaji dua minggu sekali melalui Koperasi Sumber Rejeki. Kebutuhan anggaran mencapai Rp 8,7 juta per hari. Kalau ditambah lagi, dikhawatirkan membebani fiskal daerah. Meski begitu, dia berkomitmen mencari solusi agar Trans Jatim dan angkot dapat beroperasi berdampingan tanpa saling merugikan. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho