Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Perbaikan Pasar Induk Among Tani Batu Bertahap hingga 2026, Sudah Gandeng Mitra untuk Meramaikan Kunjungan

Fajar Andre Setiawan • Kamis, 2 Oktober 2025 | 16:08 WIB
Target Perbaikan Pasar Among Tani Batu 2025.
Target Perbaikan Pasar Among Tani Batu 2025.

BATU - Perbaikan Pasar Induk Among Tani Batu akan dilakukan secara bertahap. Tahun depan, perbaikan fisik masih akan terus berjalan. Pemerintah Kota (Pemkot) Batu meminta pedagang untuk menahan diri. Sebab, proses perbaikan pasar induk membutuhkan waktu yang cukup lama. Mengingat keterbatasan anggaran dan kapasitas Pemkot Batu.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumperindag) Kota Batu Nurbianto Puji meminta pedagang bersabar. Sebab, semua aspirasi mereka dan permasalahan pasar akan diselesaikan satu per satu. Apalagi Pemkot Batu baru saja mendapatkan wewenang penuh untuk melakukan itu pada 23 September lalu.

Itu setelah aset pasar induk diserahkan secara resmi kepada Pemkot Batu oleh Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen-PU) Republik Indonesia. Untuk itu, pria yang akrab disapa Kentor itu berharap rencana demonstrasi pedagang bisa diurungkan. Dia menilai poin-poin tuntutan bisa disampaikan melalui forum audiensi dengan dialog interaktif.

“Kami ke depan akan lebih intens menyelenggarakan forum-forum tersebut,” ungkapnya. Dia menjelaskan perbaikan fisik pasar terus digeber tahun ini. Bahkan sampai melibatkan dua instansi terkait. Yakni Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR).

Disperkim saat ini sedang menjalankan proyek perbaikan talang dan peningkatan kapasitas drainase di pasar induk. Sedangkan, DPUPR sedang melakukan pelebaran jalan dan revitalisasi trotoar di Jalan Dewi Sartika (di depan pasar induk). Itu semua bentuk upaya Pemkot Batu dalam memudahkan akses pengunjung dan kenyamanan pedagang.

“Perbaikan itu dilakukan juga bermula dari keluhan pedagang,” imbuhnya. Kentor mengakui keluhan terkait kerusakan infrastruktur pasar sudah mulai disampaikan sejak Oktober 2024 lalu. Bukan bermaksud tak merespon keluhan itu, Kentor mengaku anggarannya baru bisa diajukan melalui APBD 2025 dan Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) tahun ini.

Selain itu, perbaikan parsial yang dilakukan juga tak begitu tampak. Sebab, kerusakan terus menjalar ke mana-mana. Sehingga, Kentor mengaku harus menggandeng instansi lain untuk melakukan perbaikan fisik tersebut. Seperti penggantian 11 talang air sepanjang 80 meter yang rusak yang dilakukan Disperkim.

Selain itu, juga dilakukan penggantian pelat baja dan peningkatan kapasitas gorong-gorong. Tujuannya agar area parkir pasar induk bisa menampung 20 bus pariwisata berkapasitas 60 orang. Tentu itu juga sebagai upaya meramaikan kunjungan pasar. Pasalnya, ke depan pasar induk diproyeksikan menjadi jujugan untuk wisata kuliner dan berbelanja oleh-oleh.

Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu mengaku terus melakukan pemetaan prioritas kebutuhan dan urgensi penyelesaian masalah di pasar induk. Beberapa perbaikan fisik yang sedang berjalan dinilai sebagai permasalahan yang paling mendesak.

Terpisah, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Induk Among Tani Gadis Dewi Primandhasari juga mengaku telah menginventarisasi permasalahan yang ada. Baik dari temuan lapangan maupun yang dilaporkan pedagang. Namun, lagi-lagi semua perkara waktu. Gadis pun meminta pedagang untuk sabar.

Pasalnya, tuntutan pedagang masih terus dalam progres. Misalnya, terkait penerbitan Surat Izin Hak Pakai (SIHP). Sejauh ini sudah ada 95 SIHP kios yang terbit. Dia menarget hingga akhir tahun nanti ada 277 SIHP kios di pasar sayur yang terbit. Sementara, terkait penertiban jam operasional tiga pasar, perempuan asal Blitar itu mengaku perlu bantuan instansi lain.

“Setidaknya saya didampingi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) menghindari kesalahpahaman yang berpotensi terjadi di lapangan,” tutur alumnus UMM itu. Namun, untuk praktik pungutan liar (pungli) kaitannya dengan tarif retribusi di atas ketentuan, Gadis menegaskan tidak pernah melakukan hal itu.

“Retribusi pedagang pasar pagi yang kami terima melalui pekerja di lapangan sebesar Rp 4 ribu per bedak. Kalau ada yang mengaku ditarik Rp 12 ribu, saya tidak tahu-menahu,” tegasnya. Lebih lanjut, Gadis menyampaikan anggaran untuk perbaikan pasar induk tahun depan mulai digarap. Sayangnya dia enggak menyebutkan perkiraan besaran anggarannya.

Yang jelas dia menyampaikan anggaran perbaikan 2026 mendatang akan jauh lebih besar. Dana tersebut akan digunakan untuk perbaikan lanjutan dan perawatan sejumlah fasilitas yang rusak. Seperti kursi, meja, aliran air yang kerap macet, dan urinoir. “Kami juga sudah menggandeng praktisi untuk mendapat kiat-kiat dalam meramaikan pasar,” tandasnya.

Dalam penyusunan Standard Operating Procedure (SOP), dia berkomitmen untuk terus melibatkan pedagang. Gadis menilai perbaikan pasar baik secara fisik maupun manajerial perlu keterlibatan banyak pihak khususnya pedagang. Sehingga, Gadis meminta semua pihak berkepentingan bisa bersinergi dengan baik. (dia/dre)

Editor : A. Nugroho
#Disperkim #Diskumperindag #Pasar Induk Among Tani Batu #Perbaikan