BATU - Momen perpindahan pedagang pasar selalu tak mudah.
Hilangnya pelanggan dan penurunan omzet selalu mewarnainya.
Itulah yang membuat pedagang dengan modal kecil akhirnya gulung tikar.
Seperti yang terjadi kepada pedagang pagi Pasar Induk Among Tani Batu.
Ada sekitar 330 pedagang yang menyerah dan memilih tak berjualan lagi.
Namun, mereka telah digantikan pedagang-pedagang baru.
Ketua Paguyuban PKL Pasar Pagi Rubianto mengatakan jumlah total pedagang pasar pagi yakni 1.097.
Sebanyak 30 persen di antaranya merupakan pedagang baru.
Tak setiap hari 1.097 pedagang itu berjualan.
Rata-rata kehadiran pedagang hanya 80 persen saja.
Rubianto mengaku setiap kali relokasi pasar pasti ada penurunan omzet.
Sebab, pelanggan juga butuh adaptasi dengan tempat baru.
Tak jarang awal-awal para pedagang akan kehilangan pelanggan mereka.
Sama seperti saat pindah dari pasar lama ke pasar relokasi Stadion Gelora Brantas.
“Ibaratnya ya mulai dari nol lagi,” ujarnya.
Transisi itulah yang menjadi tantangan pedagang.
Tak jarang mereka akhirnya tumbang alias gulung tikar.
Kebanyakan yang mengalami hal itu pedagang- pedagang dengan modal pas-pasan.
Tak terkecuali Rubianto sendiri.
Dia mengaku omzetnya masih belum pulih hingga saat ini.
”Kalau di pasar relokasi dulu bisa laku empat sampai enam kotak tahu dalam sehari. Sekarang hanya dua kotak saja,” ujarnya.
Permasalahan adaptasi pedagang dan pembeli juga ditambah masalah sarana dan prasarana.
Jauhnya tempat parkir pedagang juga membuat pengeluaran pedagang menjadi bengkak.
Beberapa pedagang terpaksa harus membayar jasa kuli panggul.
Ongkosnya bisa mencapai Rp 40-50 ribu untuk sehari.
Belum lagi biaya retribusi dan iuran sampah.
Rubianto mengatakan rata-rata pedagang harus mengeluarkan uang Rp 100 ribu untuk itu semua. (iza/dre)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana