Pemkot Batu Investigasi Tiga Sumber Air Mati

Rori Dinanda Bestari • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 16:00 WIB
MULAI DIKAJI: Anggota Komisi B DPRD Kota Batu meninjau kawasan pembangunan PT Esa Suwardhana Thani di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji pada 22 September lalu. (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)
MULAI DIKAJI: Anggota Komisi B DPRD Kota Batu meninjau kawasan pembangunan PT Esa Suwardhana Thani di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji pada 22 September lalu. (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)

BATU, RADAR BATU – Investigasi penyebab matinya tiga sumber mata air di sekitar lokasi pembangunan fasilitas wisata PT Esa Suwardhana Thani (PT Esa) di Dusun Jurang Kuali, Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji mulai dilakukan Pemkot Batu. Langkah tersebut dilakukan setelah Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Batu melakukan inspeksi mendadak (sidak) di lokasi proyek pada 22 September 2026 lalu.

Hasil inspeksi kemudian diserahkan kepada Pemkot Batu untuk ditindaklanjuti. Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batu Alfi Nurhidayat mengatakan, tim teknis mulai melakukan kajian di lapangan. Investigasi diperlukan untuk memastikan penyebab matinya tiga sumber air tersebut secara objektif. Menurut Alfi, penyusutan debit sumber air di kawasan hulu juga terjadi bersamaan dengan musim kemarau.

Baca Juga: Akses Keranda dan Kamar Mandi Umum Sisir Kota Batu Dipersoalkan

“Karena itu, kami tidak ingin terburu-buru menyimpulkan penyebabnya sebelum kajian teknis dilakukan. Kita lihat lebih dalam lagi, apakah mati karena pola investasi tersebut atau karena musim kemarau,” terangnya. Selain faktor cuaca, dia juga akan mendalami kemungkinan pengaruh aktivitas konstruksi dan pengeboran sumur air bawah tanah di lokasi proyek.

Selain itu, aktivitas penancapan fondasi yang dikhawatirkan berdampak terhadap kondisi lapisan tanah dan sumber air juga akan diperiksa. Alfi menegaskan, apabila hasil investigasi dan kajian ilmiah membuktikan adanya hubungan antara kegiatan pembangunan PT Esa dengan matinya tiga sumber mata air, pemkot akan mengambil tindakan tegas.

Baca Juga: Lahan Fasum Sisir Kota Batu Dipersoalkan, Sertifikat Catat 164 Meter

“Makanya, ini akan menjadi evaluasi kita lebih lanjut. Bukan tidak mungkin kita batalkan atau proyek dihentikan,” ujar Alfi. Dia menegaskan, investasi di sektor pariwisata tetap penting untuk mendorong perekonomian daerah. Namun, pengembangan investasi tidak boleh mengorbankan keberadaan sumber daya air yang menjadi kebutuhan masyarakat.

Menurut Alfi, keberadaan sumber mata air alami menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan keberlanjutan kegiatan pembangunan di kawasan hulu. Karena itu, Pemkot Batu akan menunggu hasil investigasi sebelum menentukan langkah terhadap proyek PT Esa.

Kajian itu diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai penyebab matinya tiga sumber air yang selama ini dimanfaatkan warga Kampung Gimbo. Pemerintah juga dihadapkan pada dua kepentingan yang harus berjalan beriringan, yakni menjaga iklim investasi sekaligus memastikan perlindungan lingkungan dan sumber air di kawasan hulu Brantas. 

Editor : Fajar Andre Setiawan
air bersih dprd kota batu Bumiaji kota batu