BULUKERTO, RADAR BATU - Ancaman kesehatan dan kenyamanan lingkungan kembali mencuat dari keberadaan kandang babi di tengah permukiman warga Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji. Warga sudah sejak lama menyampaikan keberatan dengan keberadaan aktivitas peternakan tersebut. Namun, hingga kini keluhan itu tak kunjung berujung pada solusi konkret.
Seorang warga setempat Mawar, bukan nama sebenarnya mengatakan kandang tersebut telah berdiri sejak beberapa tahun lalu. Bahkan kandang tersebut sempat hanyut saat banjir bandang pada 2021 silam. Namun, kandang kembali dibangun di lokasi yang sama.
“Waktu itu kami kira tidak dilanjutkan, ternyata dibangun lagi,” ujarnya. Menurutnya, kandang tersebut berisi lebih dari lima ekor babi. Selain itu, terdapat hewan lain seperti monyet, anjing, dan beberapa jenis lainnya. Ia menilai pengelolaan limbah belum memadai.
BACA JUGA: Banjir Kembali Terjang Bumiaji, 4 Rumah Terdampak dan Akses ke Selecta Sempat Lumpuh
Kotoran hewan disebut kerap dibuang ke sungai di samping kandang. Lokasinya tidak jauh dari rumah warga. Sementara pakan berupa sayur dan buah busuk memicu bau menyengat di lingkungan sekitar. “Aromanya tercium kuat, apalagi saat cuaca lembap,” katanya.
Ia juga mengaku mengalami gangguan kesehatan. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, dirinya disarankan menjauhi sumber kontaminasi seperti limbah organik dan kotoran hewan. Secara ilmiah, limbah peternakan berpotensi menghasilkan patogen, gas beracun, dan debu organik. Paparan jangka panjang dapat memicu gangguan pernapasan hingga penyakit paru.
Ketua RT setempat yang enggan disebutkan namanya menyebut warga pernah membuat surat keberatan yang ditandatangani bersama. “Sudah pernah kami sampaikan, tapi belum ada tindak lanjut,” ujarnya.
Menurutnya, berbagai upaya mediasi telah dilakukan. Namun belum menghasilkan kesepakatan. Setelah banjir 2021, warga sempat berharap kandang tidak dibangun kembali di dekat sungai. “Namun, sekitar 2022 justru didirikan lagi,” katanya.
Keluhan juga telah disampaikan ke pemerintah desa hingga Satpol PP. Namun persoalan belum terselesaikan. Ia menyebut, pemilik kandang beralasan aktivitas tersebut sebagai hobi. Ia menambahkan, rumah pemilik kandang tidak berada di sekitar lokasi.
Dampak justru dirasakan warga yang tinggal berdekatan. Bau tak sedap semakin terasa saat hujan. “Kami berharap ada kesadaran karena dampaknya jelas dirasakan warga lain,” tegasnya.
Kepala Desa Bulukerto Suhermawan mengaku telah melakukan komunikasi dengan pemilik kandang babi tersebut. Namun, dia merasa tidak mendapatkan respons yang baik. “Kami masih berupaya pendekatan, termasuk melalui keluarga,” ujarnya.
BACA JUGA: Feeding Penguin Humboldt di Eco Active Park Jadi Daya Tarik Baru Wisata Kota Batu
Sementara itu, Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu Sri Nurcahyani Rahayu mengaku akan menindaklanjuti laporan tersebut. Pengecekan lapangan akan dilakukan untuk menilai kelayakan dan sanitasi kandang.
Berdasarkan data Distan KP, kata dia, saat ini Kota Batu tidak memiliki peternakan babi skala besar. Namun, pihaknya berjanji akan melakukan pengecekan langsung ke lapangan. Selain itu, pihaknya juga bakal menelusuri aspek perizinan kandang tersebut.
Secara umum, usaha peternakan memang wajib megantongi izin seperti Izin Usaha Peternakan (IUP) untuk skala menengah hingga besar, atau Tanda Bukti Pendataan (TBP)/Surat Tanda Daftar (STD) untuk skala kecil yang diterbitkan melalui sistem OSS.
BACA JUGA: Belanja Pegawai Tembus 37 Persen, Pemkot Batu Andalkan PAD untuk Tekan Rasio Tanpa Pangkas ASN
“Dilihat juga apakah sudah mengurus OSS atau belum,” pungkasnya. Hingga kini, warga berharap ada langkah tegas. Bukan sekadar mediasi, tetapi solusi konkret yang menjamin kesehatan dan kenyamanan lingkungan.
Terpisah, pemilik kandang yang enggan disebut identitasnya mengaku telah sering mendengar keluhan warga sekitar. Namun, ia tak punya lahan lain untuk membangun kandang baru. “Kami juga menjadikan ternak ini sebagai sampingan,” ungkapnya.
BACA JUGA: Destinasi Wisata Wajib Ramah Disabilitas dan Minim Polusi, Pakar Pariwisata UM: Jangan Sekadar Indah
Ia menyebut awalnya hanya memelihara satu ekor babi pada 2007 silam. Aktivitas ternak yang ia lakukan saat itu hanya sekadar hobi. “Tahun 2021 terkena banjir bandang dan sempat tak punya kandang, kemudian setelah itu kami punya tiga babi” ungkapnya.
Kini jumlah babi di sana mencapai sekitar 14 ekor yang didominasi anakan. Sebab, ada beberapa ekor babi anakan yang baru saja lahir. Beberapa babi usia dewasa awal akan dijualnya, terutama saat membutuhkan uang.
BACA JUGA: Walhi Soroti Krisis Tata Ruang Bumiaji Penyebab Banjir Luapan
Babi biasanya dijual dalam kondisi hidup kepada beberapa kenalannya baik dari Kota Batu maupun Malang Raya. Ia menambahkan, babi-babi ternaknya diberi makan berupa sayur-mayur dan buah apel sortiran.
Dia mengakui bahwa belum ada pengelolaan limbah pakan dan kotoran ternak yang terstandar. Selama ini pihaknya hanya melakukan pengelolaan limbah pakan dan kotoran seadanya alias sederhana.
BACA JUGA: DPRD Soroti Kebocoran PAD, Pajak Vila hingga Parkir Jadi Target Baru Dongkrak Pendapatan Batu
Pemilik kandang mengaku hanya membuat lubang untuk mengumpulkan kotoran. Selanjutnya, kotoran tersebut diambil oleh kenalannya beberapa kali dalam seminggu. Sementara untuk air kencing babi, ia mengaku membuangnya langsung ke sungai.
Dia menegaskan selama belum ada tempat lain yang representatif, ia tidak bisa pindah dari dari kandangnya sekarang. Dirinya juga berharap pemerintah bisa memfasilitasi kandang komunal apabila aktivitasnya dianggap mengganggu.
Terkait pengecekan yang akan dilakukan Distan-KP Kota Batu, ia mengaku tak akan mempermasalahkan. (dia/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan