BATU – Pemandangan berbeda terlihat di lahan pertanian Desa Tulungrejo dan Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, selama Ramadan. Sejumlah petani terlihat bekerja di sawah sambil membawa payung untuk melindungi diri dari terik matahari.
Kebiasaan ini mulai banyak dilakukan petani, terutama ibu-ibu. Payung dipakai agar mereka tetap bisa beraktivitas di lahan tanpa terlalu kepanasan saat menjalankan ibadah puasa.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem, Petani di Kota Batu Diminta Tunda Tanam
“Iya, sekarang banyak yang kompak pakai payung biar tidak terlalu panas, yang pakai mayoritas ibu-ibu,” ujar Karim, petani asal Desa Tulungrejo.
Menurutnya, aktivitas bertani tetap berjalan seperti biasa selama Ramadan. Namun para petani berusaha mencari cara agar pekerjaan di sawah tidak terlalu menguras tenaga. Salah satunya dengan menggunakan payung saat bekerja di bawah terik matahari.
Saat ditemui kemarin, Karim bersama beberapa petani lain sedang membersihkan rumput liar di lahan kentang. Mereka biasanya mulai bekerja sejak pagi agar pekerjaan selesai sebelum siang.
“Kalau dulu biasanya pakai capil (topi petani), tapi sekarang payung lebih lebar dan lebih melindungi dari panas,” jelasnya.
Baca Juga: Permintaan Melemah, Harga Apel Batu di Tingkat Petani Kota Batu Terus Merosot
Hal serupa disampaikan Suwarni, petani asal Desa Sumberbrantas. Ia bersama rekannya memilih membawa payung karena lebih praktis digunakan dalam berbagai kondisi cuaca.
“Payung ini bisa dipakai saat panas sekaligus saat hujan, jadi lebih praktis,” ujarnya.
Selama Ramadan, para petani biasanya bekerja hingga sekitar pukul 14.00 sebelum pulang beristirahat. Meski berpuasa, aktivitas pertanian seperti menanam kentang, wortel, dan sayuran lainnya tetap berjalan demi menjaga produktivitas.
Penulis: Zanadia Manik Fatimah
Editor : Aditya Novrian