BATU - Hujan berintensitas tinggi dalam beberapa pekan terakhir memaksa petani bunga di Kota Batu bekerja ekstra mempertahankan kualitas dan jumlah produksi. Sebab, bunga rentan rusak, terserang jamur, hingga gagal berbunga saat musim penghujan. Untuk itu, banyak petani menambah dosis pupuk dan obat tanaman agar kualitas dan produksi stabil.
Petani bunga asal Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Kukuh Reyhan Azmy mengaku produksi kebunnya turun signifikan. Banyak bunga gagal tumbuh optimal setelah terguyur hujan tanpa jeda. Menurutnya, kondisi ini hampir selalu berulang setiap musim hujan. Karena itu, ia meningkatkan intensitas pemberian pupuk dan obat meski biaya produksi ikut naik.
Langkah itu dianggap lebih aman untuk mencegah kerugian yang lebih besar. Keluhan serupa disampaikan Nur Aziz, petani mawar dari Desa Gunungsari. Ia mengatakan pola perawatan tanaman sebenarnya tidak berubah drastis. Namun, ada penyesuaian dengan karakter musim.
“Hanya perlakuan yang beda. Musim hujan punya perlakuan sendiri, musim kering juga,” terangnya. Jika biasanya ia memberikan obat seminggu sekali, kini frekuensinya naik menjadi dua hingga tiga kali seminggu untuk mencegah serangan penyakit.
Hal yang sama dilakukan Ilham Fadillah, petani bunga dengan lahan 2.000 meter persegi. Ia mengatakan beberapa tanamannya terserang jamur sehingga harus diberi obat tambahan. “Karena itu saya pakai fungisida sistemik. Kalau kemarau tidak perlu, tapi musim hujan harus,” ujarnya.
Ilham menggunakan sekitar 100 mililiter fungisida sistemik yang dicampur dalam 150 liter air untuk kebutuhan satu kali penyemprotan di lahannya. “Diberi obat tiga kali dalam seminggu,” imbuhnya.
Meski harus menambah biaya dan tenaga, para petani berharap upaya ini dapat menahan penurunan produksi agar tidak terlalu tajam. Penyesuaian ini dinilai penting mengingat cuaca penghujan kian sulit diprediksi. “Sementara ini panen saya masih normal, sekitar 500 tangkai tiap panen,” pungkas Ilham. (dia/dre)
Editor : Aditya Novrian