BATU – Capaian retribusi parkir Pasar Induk Among Tani hingga September kemarin masih mencapai 42,25 persen saja atau setara Rp 2,5 miliar. Sedangkan target tahun ini sebesar Rp 6 miliar. Idealnya, realisasi retribusi parkir pada September lalu sudah mencapai Rp 4,5 miliar. Artinya, capaiannya masih minus Rp 2 miliar.
Target retribusi parkir tahun ini memang meningkat drastis, dari Rp 2,2 miliar pada 2024 lalu menjadi Rp 6 miliar pada tahun ini. Hal tersebut membuat Unit Pelaksana Teknis (UPT) ngos-ngosan mengejar target tersebut. Kendati begitu, Kepala UPT Pasar Induk Among Tani, Gadis Dewi Primandhasari, menilai realisasinya masih cukup baik.
“Itu terjadi lantaran palang pintu parkir tidak tertutup sepenuhnya,” ujar Gadis Dewi Primandhasari, Kepala UPT Pasar Induk Among Tani.
Jika menengok ke belakang, capaian retribusi parkir pada triwulan ketiga tahun ini mengalami penurunan. Rata-rata pendapatan retribusi per bulan hanya Rp 270 juta saja. Padahal, rata-rata capaian retribusi pada semester pertama lalu mencapai Rp 281 juta per bulan. Artinya, ada penurunan pendapatan sebesar Rp 11 juta selama tiga bulan terakhir ini.
Gadis menyampaikan bahwa kebocoran parkir di Pasar Induk masih kerap terjadi. Yang paling marak yakni penerobosan palang pintu parkir, sehingga pengunjung tidak mengambil karcis dan membayarnya saat keluar. “Itu terjadi lantaran palang pintu parkir tidak tertutup sepenuhnya,” ungkap alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu.
Sejauh ini, hal tersebut telah disiasati dengan pemasangan road barrier. Namun, upaya itu belum memberikan efek yang signifikan. (dia/dre)