BATU - Hanya ada lima kelompok seni ludruk dan satu kelompok seni panembromo di Kota Batu. Yakni Kusuma Wijaya, Lestari Budaya, Putro Mandala, Suro Adi Suryo, dan Trancam Art untuk kelompok seni ludruk. Sedangkan, satu-satunya kelompok seni panembromo di Kota Batu yakni Wredatama Lestari Budoyo.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu Sintiche Agustina Pamungkas mengatakan sebenarnya ada satu lagi kelompok seni ludruk yang tercatat. Namun, kelompok tersebut tidak hanya fokus terhadap kesenian ludruk. Melainkan juga campursari, tayub, dan dangdut. "Kelompok seni itu dari Sanggar Madewo Apples," ujarnya.
Sedikitnya jumlah pelaku seni di bidang ludruk dan panembromo disebabkan banyak faktor. Minat masyarakat yang rendah menjadikan eksistensi kesenian tersebut kian redup. Apalagi kesenian tersebut bukan khas dari Kota Batu. Berbeda dengan seni bantengan yang cenderung lebih tumbuh beberapa waktu belakangan ini.
“Jumlah kelompok seni bantengan juga cukup banyak,” ungkapnya. Selain itu, dia menilai ada potensi keberadaan kelompok seni yang belum tercatat di Disparta. Sehingga, kelompok tersebut belum memiliki Nomor Induk Kesenian (NIK). Itulah mengapa saat ini pihaknya sedang memasifkan pendataan.
Perempuan kelahiran Kota Kediri itu mengatakan bekerja sama dengan Dewan Kesenian Kota Batu (DKKB). Sebab, legalitas kelompok kesenian penting dimiliki agar Pemerintah Kota (Pemkot) Batu bisa memberikan intervensi. Khususnya untuk upaya pembinaan dan promosi. Seperti yang saat ini intens dilakukan terhadap kelompok seni Gumbingan. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho