Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Aksi May Day di Mata Mahasiswa: Dari Solidaritas hingga Tuntutan Perubahan

A. Nugroho • Jumat, 2 Mei 2025 | 21:30 WIB

Ilustrasi aksi mahasiswa (freepik.com).
Ilustrasi aksi mahasiswa (freepik.com).

RADAR BATU Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day. Di Indonesia, momentum ini sering diwarnai dengan demonstrasi besar-besaran yang menuntut keadilan dan kesejahteraan bagi para pekerja. Namun, satu elemen yang semakin mencuri perhatian dalam aksi ini adalah partisipasi mahasiswa. Bukan sekadar ikut-ikutan, kehadiran mereka ternyata membawa pesan dan dampak yang tak bisa dianggap remeh.

Mahasiswa dinilai sebagai agen perubahan sosial yang memiliki kapasitas intelektual sekaligus keberanian untuk menyuarakan isu-isu publik. Dalam aksi-aksi peringatan Hari Buruh, mahasiswa bukan hanya tampil sebagai simpatisan, melainkan menjadi penggerak opini dan kesadaran masyarakat.

Baca Juga: 6 Seniman Tuangkan Gagasan Politik lewat Karya Seni Instalasi di Srengenge Art Space Kota Batu

“Mahasiswa punya posisi unik. Mereka bisa menyuarakan suara buruh sekaligus mendorong publik untuk ikut peduli terhadap isu ketenagakerjaan,” ujar salah satu aktivis mahasiswa di Malang yang turut serta dalam aksi peringatan May Day tahun ini.

Tak hanya soal kritik terhadap kebijakan, kehadiran mahasiswa juga menyimbolkan solidaritas lintas kelas. Isu buruh bukan lagi milik pekerja pabrik semata, tapi milik semua yang peduli akan keadilan sosial, termasuk mahasiswa. Aksi bersama ini menunjukkan bahwa perjuangan buruh adalah perjuangan kolektif.

Bukti nyata peran mahasiswa dalam aksi May Day 2025 terlihat di berbagai daerah. Di Palu, mahasiswa bersama aktivis menggelar aksi dengan 12 tuntutan, mulai dari pengesahan RUU Ketenagakerjaan hingga pengusutan pelanggaran HAM. Di Palangka Raya, mahasiswa membawa 11 tuntutan, termasuk pengesahan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT) dan evaluasi keselamatan kerja. Sementara itu, secara nasional, mahasiswa dan buruh bersatu menyuarakan isu penghapusan outsourcing dan perlindungan pekerja magang.

Baca Juga: 120 Perusahaan Kota Batu Belum Gaji Karyawan Sesuai UMK, Ini Temuan Serikat Pekerja

Isu-isu yang diangkat mahasiswa kerap menyentuh sisi yang sering terpinggirkan, seperti eksploitasi pekerja perempuan, praktik magang tak adil, hingga ketidakamanan sektor informal. Aksi mereka ikut mengangkat isu-isu ini ke permukaan, memberi tekanan moral dan politik kepada pembuat kebijakan.

Dampaknya? Tidak sedikit. Aksi-aksi ini memperkuat posisi tawar buruh, mendorong munculnya tekanan terhadap pemerintah dan perusahaan, serta meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya keadilan dalam dunia kerja.

“Mahasiswa turun aksi bukan hanya untuk berdiri bersama buruh, tapi untuk mengingatkan kita semua bahwa perjuangan belum selesai,” ungkap aktivis tersebut.

Peringatan Hari Buruh bukan sekadar seremoni tahunan. Ketika mahasiswa turun ke jalan, itu adalah seruan nyata bahwa perubahan hanya mungkin terjadi jika semua pihak bersatu memperjuangkannya. Sebab buruh bukan hanya tulang punggung bangsa, mereka adalah wajah keseharian kita semua. (my)

Editor : A. Nugroho
#buruh #RUU PPRT #solidaritas #keadilan #Tolak Outsourcing #aksi mahasiswa #may day 2025