Padahal sebenarnya mereka ingin berwisata di Kota Batu.
“Seharusnya potensi itu kan bisa dinikmati secara utuh di Kota Batu. Mulai dari hotel, restoran, hingga wisatanya,” ujar Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu Sujud Hariadi.
Dia menilai penambahan hotel bintang lima harus segera dilakukan.
Tentu itu butuh peran aktif pemerintah untuk bisa mendatangkan dan menggandeng investor.
Namun, Sujud membocorkan bila pembahasan terkait itu sudah mulai dilakukan.
Bahkan, sudah ada investor yang dilirik pemerintah dan kini sedang dilakukan pendekatan.
Penambahan hotel bintang lima juga bisa menaikkan rata-rata okupansi hotel tahun ini.
Pasalnya, pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Selecta itu memprediksi rata-rata okupansi hotel 2025 ini tidak akan lebih tinggi dari tahun lalu.
Pertimbangannya mulai dari kenaikan Upah Minimum Karyawan (UMK) hingga kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Selain itu, juga dilengkapi lima kamar suites dengan luas minimal 52 meter persegi.
Tidak hanya itu, hotel bintang lima juga harus memiliki restoran, bar, kolam renang, tempat rekreasi, dan staf yang multi-profesional.
Senada dengan itu, Pj Wali Kota Batu Aries Agung Paewai juga berpendapat yang sama.
Ia menilai jumlah hotel bintang lima perlu ditambah.
Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur itu juga membenarkan jika pemerintah sedang melakukan komunikasi dengan investor terkait rencana pembangunannya.
Sayangnya, dia enggan membocorkan di mana lokasi pembangunan hotel dan kapan proyek pembangunan itu akan dimulai.
Yang jelas Aries memastikan lokasinya tidak akan melanggar aturan dan disesuaikan dengan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).
“Yang jelas realisasinya kemungkinan tahun ini,” tandasnya. (ori/dre)