Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Data Kasus DBD Tak Sinkron, Pemkot Perkuat Surveilans

R
CEGAH DBD: Petugas Dinas Kesehatan melakukan fogging di permukiman warga beberapa waktu lalu. (PROKOPIM KOTA BATU FOR RADAR BATU)
CEGAH DBD: Petugas Dinas Kesehatan melakukan fogging di permukiman warga beberapa waktu lalu. (PROKOPIM KOTA BATU FOR RADAR BATU)

Advertisement

BATU, RADAR BATU - Upaya pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Batu masih menghadapi persoalan sinkronisasi data. Perbedaan pencatatan antara rumah sakit dan puskesmas membuat tindak lanjut pencegahan di lapangan belum berjalan maksimal. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes), kasus DBD sempat melonjak pada 2024. Tercatat 442 kasus DBD dan 447 kasus Demam Dengue (DD) sepanjang tahun tersebut.

Angka tersebut kemudian berhasil ditekan pada 2025. Kasus DBD turun menjadi 165 kasus, sedangkan DD tercatat 253 kasus.

Namun hingga Juni 2026, masih ditemukan disparitas pencatatan kasus. Data diagnosis rumah sakit mencatat 69 kasus DD dan 13 DBD. Sementara, berdasarkan kriteria program puskesmas, tercatat 66 kasus DD dan tujuh DBD.

Advertisement

Kepala Dinkes Kota Batu Aditya Prasaja mengatakan perbedaan pencatatan tersebut perlu segera diurai. Sebab, data menjadi dasar dalam menentukan langkah intervensi di masyarakat. “Perbedaan data ini membuat tindak lanjut penanganan di lapangan kadang belum maksimal,” terangnya.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan kondisi lingkungan Kota Batu. Peningkatan suhu dan pertumbuhan kawasan
permukiman dinilai turut memengaruhi perkembangan nyamuk Aedes aegypti. “Ini berpengaruh pada pola penyebaran nyamuk. Ditambah pertumbuhan penduduk dan pemukiman yang signifikan,” jelasnya.

Advertisement

Karena itu, Pemkot Batu kini memperkuat konsolidasi melalui Rencana Aksi Nasional (RAN) 2026- 2029. Salah satu fokusnya menyamakan persepsi dan pencatatan data klinis antara fasilitas pelayanan kesehatan. Dengan data yang lebih seragam, petugas medis di tingkat bawah diharapkan dapat menentukan intervensi secara lebih cepat dan tepat.

Di sisi lain, Dinkes terus menggenjot pencegahan primer. Upaya tersebut dilakukan melalui optimalisasi surveilans, Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), serta
pemantauan genangan air terutama di kawasan padat penduduk. Langkah tersebut diharapkan mampu mencegah tren kasus DBD kembali melonjak seperti yang terjadi pada 2024. (ori/dre)

Advertisement
Editor : A. Nugroho
Sumber : Radar Malang

Artikel Terkait

Alokasi Dana Desa di Kota Batu untuk Stunting Capai 30 Persen

Alokasi Dana Desa di Kota Batu untuk Stunting Capai 30 Persen

Alokasi Dana Desa penanganan stunting di Kota Batu bervariasi, Desa Beji capai porsi hingga 30 persen.

13 Sampel Makanan di Malang Positif Formalin, Tahu dan Bakso Jadi Sorotan

13 Sampel Makanan di Malang Positif Formalin, Tahu dan Bakso Jadi Sorotan

Dinkes Kabupaten Malang menemukan 13 sampel pangan olahan mengandung formalin dari 1.050 sampel yang diperiksa sepanjang 2025.

589 Kasus TBC Ditemukan di Kota Batu, Kecamatan Batu Catat Angka Tertinggi

589 Kasus TBC Ditemukan di Kota Batu, Kecamatan Batu Catat Angka Tertinggi

Dinas Kesehatan Kota Batu mencatat 589 kasus tuberkulosis (TBC) di wilayahnya.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer