Di era media soisal, promosi vila masih mempertahankan cara manual. Para pemilik dan calo berdiri di tepi jalan, menyapa setiap kendaraan yang melintas. Di kawasan yang dulu penuh tamu, kini mereka menunggu berjam-jam hanya untuk satu dua pengunjung saja.
RORI DINANDA BESTARI
SIANG itu, Suyanto berdiri di pinggir jalan dekat gapura Songgoriti. Matanya awas mengikuti kendaraan yang masuk kawasan. Setiap mobil yang melambat, ia dekati. Setiap motor yang berhenti, ia sapa. Cara lama yang masih ia andalkan untuk menjual kamar vila.
“Hampir tiap hari ke jalan, dua sampai tiga jam pas siang. Kalau malam ramai, ya ke jalan lagi.” Sudah bertahun-tahun pemandangan itu tak berubah. Jemput bola menjadi strategi utama pemilik vila di Songgoriti.
Ketika wisatawan tak lagi datang sendiri, pemiliklah yang mengejar. Namun hasilnya tak selalu sebanding. Tak mendapat tamu dalam sehari sudah menjadi hal biasa. Bagi Suyanto, satu tamu saja sudah dianggap keberuntungan.
Ia mengakui keterbatasannya dalam memanfaatkan media sosial. Promosi digital terasa jauh. Sementara persaingan kian ketat. Bukan hanya antarvila, tetapi juga dengan homestay dan hotel yang bermunculan di Kota Batu. “Sekarang susahnya bukan cuma promosi, tapi saingannya banyak,” keluhnya.
Kondisi serupa dialami Munadi, pemilik vila di Gang Macan. Dalam sehari, ia hanya bisa berharap satu tamu datang. Kalau long weekend, dia bisa mendapat enam tamu. Namun, itu pun jarang terjadi. Padahal, di masa lalu, vila-vila Songgoriti hampir tak pernah kosong.
Long weekend selalu berarti kamar habis. Wisatawan berjubel dan sektor penginapan menjadi denyut utama kawasan. Kini, berbagai penyesuaian dilakukan. Munadi menawarkan paket menginap singkat alias short time dengan tarif Rp60-80 ribu.
Sementara tarif menginap per malam berkisar Rp120-150 ribu. Harga ditekan serendah mungkin demi menarik minat. Namun tarif murah tak selalu mendatangkan tamu. Operasional vila justru semakin berat.
Perawatan kamar tetap harus dilakukan. Sebab, listrik dan air tetap berjalan. Sementara pemasukan kian mengering. Munadi menilai persoalan vila Songgoriti bukan semata soal persaingan penginapan. Ada faktor yang lebih mendasar yakni kawasan wisatan yang tak lagi menarik. “Tidak ada pembaruan. Wisatawan lewat saja,” ujarnya.
Destinasi lain di Kota Batu, seperti Santerra atau Paralayang, kini menjadi pilihan utama. Songgoriti hanya menjadi jalur lintasan. Tanpa revitalisasi kawasan, vila-vila di dalamnya ikut tenggelam. Harapan pun diarahkan ke pemerintah. Suyanto berharap ada uluran tangan nyata untuk menghidupkan kembali kawasan Songgoriti.
Dia meminta revitalisasi bukan hanya lewat sebatas wacana, tetapi tindakan. Revitalisasi, penataan hingga dukungan promosi dinilai penting agar kawasan ini kembali bergeliat.
Baca Juga: Revitalisasi Wisata Songgoriti Bakal Gandeng BUMD Pemkot Batu
“Kalau wisatanya hidup, vilanya ikut hidup. Pasar dan UMKM juga,” katanya.
Di Songgoriti, pemilik vila masih setia berdiri di pinggir jalan. Menunggu kendaraan melambat. Menunggu wisatawan menoleh. Dan menunggu kawasan yang dulu ramai, menemukan jalannya kembali. (*/dre)
Editor : Aditya Novrian