BATU - Produksi beras lokal Kota Batu tak bisa penuhi program makan siang bergizi (MBG).
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu, produksi beras setiap tahunnya hanya sebanyak 3.053 ton saja.
Sedangkan perhitungan kasar kebutuhan beras untuk menjalankan program tersebut sebanyak 3.200 kilogram per hari atau 83.200 kilogram per bulan.
Sementara, rata-rata kebutuhan per bulan (di luar kebutuhan realisasi program MBG) mencapai 1,4 juta ton.
Itu artinya, untuk memenuhi kebutuhan pokok beras masyarakat Kota Batu saja tak cukup.
Kendati belum berjalan, Pemerintah Kota (Pemkot) Batu harus sudah mulai memikirkan cara untuk memenuhi kebutuhan beras tersebut.
Kepala Bidang (Kabid) Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu Lestari Aji mengatakan, kebutuhan beras untuk MBG dipastikan besar.
Namun, dia masih belum dapat menyebut angka secara pasti.
“Yang jelas kalau mengandalkan produksi beras lokal saja tidak akan cukup,” ucapnya.
Pasalnya, pertanian Kota Batu lebih banyak memproduksi hasil tanaman hortikultura.
Namun jika diprediksi dengan hitungan kasar kebutuhan beras per harinya bisa mencapai 3.200 kilogram.
Mengingat jumlah siswa yang akan disasar sebanyak 32 ribu.
Jika satu kilogram beras bisa untuk 10 anak, maka kebutuhannya 3.200 kilogram beras per hari.
Jika dikalikan dengan 26 hari efektif belajar dalam sebulan, kebutuhan beras bulanan untuk prorgram MBG mencapai 83.200 kilogram.
Untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut, Aji akan mengajukan kerja sama dengan daerah lain.
Mengingat selama ini kebutuhan beras juga dipasok Perum Bulog dari Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang dan daerah lain. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho