
BUMIAJI, RADAR BATU - Ancaman terhadap keberlanjutan sumber mata air kembali mengemuka. Dalam Rembug Ekologis Festival Mata Air di Balai Dusun Cangar, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji kemarin (23/4), Sumber Umbul Gemulo menjadi sorotan utama.
Sumber air tersebut sebelumnya menjadi polemik. Pemicunya, pembangunan di kawasan sekitar. Mulai dari proyek Hotel Rayja hingga wacana penetapan lokasi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Aktivitas itu dinilai berpotensi mengganggu debit air.
Desakan publik pun menguat. Warga mendorong pembelian lahan di sekitar sumber untuk dijadikan kawasan konservasi. Tujuannya jelas, menutup celah alih fungsi lahan yang berisiko merusak ekosistem.
Plt Wali Kota Batu Heli Suyanto menegaskan perlindungan sumber air tidak bisa dibebankan pada satu daerah. Air dari kawasan hulu mengalir lintas wilayah. “Perlu sinergi antardaerah yang turut memanfaatkan,” ujarnya.
Ia mencontohkan Kota Malang sebagai salah satu wilayah yang menikmati aliran air dari Kota Batu. Karena itu, opsi kolaborasi mulai dibuka. Mulai dari revitalisasi kawasan hingga kemungkinan pembelian lahan konservasi.
“Usulan pembelian lahan sudah kami kaji. Tapi harus disesuaikan dengan kemampuan anggaran,” katanya. Namun,kondisi fiskal daerah menjadi kendala. Efisiensi anggaran akibat penurunan transfer pusat membuat ruang gerak terbatas.
Meski begitu, Pemkot membuka peluang skema pendanaan bersama. Menurut Heli, opsi sharing anggaran dengan Pemprov Jawa Timur cukup realistis. Terlebih, provinsi juga memiliki aset di kawasan tersebut. “Skema kolaborasi sangat mungkin dilakukan,” imbuhnya.


