
BATU, RADAR BATU – Penyakit mulut dan kuku (PMK) tidak hanya mengancam kesehatan ternak. Penyakit tersebut juga dapat memukul pendapatan peternak karena sapi yang terinfeksi bisa kehilangan nafsu makan, mengalami penurunan bobot, hingga berkurang produktivitasnya.
Kepala Dusun Kapru, Desa Gunungsari, Fahmi Hamdani mengatakan, dampak tersebut pernah dirasakannya saat wabah PMK pada 2022. Dua sapinya mati setelah mengalami luka pada bagian mulut.
Hewan ternaknya saat itu terus mengeluarkan air liur. Nafsu makan juga menurun hingga kondisi tubuhnya memburuk.
“Karena sapinya kan tidak mau makan, jadi bobotnya turun. Kalau virusnya menyerang sapi perah, produktivitasnya juga bakal menurun,” katanya.
Pengalaman tersebut membuat Fahmi lebih waspada. Kini, dia memelihara 20 pedet untuk penggemukan.
Kebersihan kandang menjadi perhatian utama. Salah satunya dengan menggunakan disinfektan dan membatasi lalu lintas ternak.
Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah penularan. Sebab, penyakit yang menyerang hewan berkuku belah itu dapat menyebar antarternak dalam satu kandang.
Penularan juga bisa terjadi antarwilayah melalui mobilitas hewan dan sarana pendukungnya. Karena itu, pengawasan lalu lintas ternak menjadi salah satu langkah penting.


